<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430</id><updated>2011-04-22T02:20:31.321+07:00</updated><title type='text'>HSE Club Indonesia</title><subtitle type='html'>Blog milist HSE-Club-Indonesia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430.post-115041008834070482</id><published>2006-06-16T05:12:00.000+07:00</published><updated>2006-06-16T05:21:28.606+07:00</updated><title type='text'>Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Konservasi Hijau)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Konservasi Hijau)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh. Wahyudin Alisyakir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan bahwa energi fosil khususnya minyak bumi yang merupakan sumber energi utama saat ini terbatas jumlahnya, sementara komsumsi energi terus meningkat sejalan dengan laju&lt;br /&gt;pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Untuk mengatasi keterbatasan itu energi&lt;br /&gt;terbarukan adalah alternatif solusi karena energi terbarukan adalah energi yang dapat diperbaharui dan apabila dikelola dengan baik, sumber daya itu tidak akan habis. Potensi energi&lt;br /&gt;terbarukan yang dimiliki indonesia seperti: energi surya, biomassa, panas bumi, energi air,anergi angin dan energi samudra, sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan. Perubahan iklim dunia yang diyakini oleh sebagian besar pakar lingkungan sebagai salah satu dampak pemanaasan global, merupakan isu utama lingkungan hidup sebagai akibat pemanfaatkan energi oleh manusia dan Indonesia telah meratifikasi United Nation Frame&lt;br /&gt;Work Convention on Climate Change melalui UU No. 6 tahun 1994, permasalahannya adalah&lt;br /&gt;implementasi dan kebijakan konkrit belum terlihat nyata. Untuk mengurangi dampak lingkungan yang lebih buruk adalah melalui konservasi energi. Konservasi energi didefinisikan sebagai penggunaan energi secara efisien dan rasional dan tanpa menggurangi penggunaan energi yang memang benar-benar diperlukan. Upaya yang bisa kita lakukan dalam konservasi energi diterapkan pada seluruh tahap pemanfaatan, penggunaan teknologi yang efisien dan membudayakan pola hidup hemat energi. Indonesia memiliki potensi energi&lt;br /&gt;terbarukan yang besar sehingga mempunyai peluang untuk dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari perkembangan dan pemanfaatannya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:&lt;br /&gt;1. Energi yang sudah dikembangakan secara komersial (biomassa , panas bumi dan tenaga air),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Energi yang sudah dikembangkan tetapi masih dalam jumlah terbatas (energi surya, anergi angin),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Energi yang sudah dikembangkan, tetapi masih dalam tahap penelitian (energi samudra).&lt;br /&gt;Sebagai negara agraris Indonesia mempunyai energi biomassa yang besar. Energi biomasa&lt;br /&gt;meliputi kayu, limbah pertanian/perkebunan/hutan, komponen organik dari industri, rumah tangga, kotoran hewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi konversi biomassa mejadi bahan bakar antara lain: Teknologi Pirolisa (bio-oil),&lt;br /&gt;esterifikasi (bio-diesel), Teknologi Fermentasi (bio-etanol), anaerobik digester (biogas).&lt;br /&gt;Energi panas bumi potensinya sangat besar mengingat negara kita mempunyai jalur vulkanik&lt;br /&gt;di sepanjang jalur Pulau Sumatera, pulau Jawa-Bali, NTT, NTB, Halmahera dan Sulawesi.&lt;br /&gt;Sementara pemanfaatan potensi energi air skala besar untuk pembangkit tenaga listrik sudah&lt;br /&gt;telah dikembangkan secara optimal di Pulau Jawa, namun di beberapa pulau lain potensi ini&lt;br /&gt;belum tergarap dengan baik. Sebagai negara tropis kita memiliki potensi energi surya yang cukup besar dengan radiasi harian matahari rata-rata 4,8 kWh/m2. Ada dua macam teknologi yang sudah diterapkan, yaitu tekonologi energi surya thernal dan fotovoltaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi surya thermal umumnya digunakan untuk kompor surya, mengeringkan hasil pertanian&lt;br /&gt;tetapi masih dalam jumlah yang terbatas. Energi surya fotovoltaik digunakan untuk memenuhi&lt;br /&gt;kebutuhan listrik. Saat ini pemanfaatan energi surya dalam bentuk SHS (solar home system)&lt;br /&gt;sudah mencapai tahap komersial. Sedangakan Potensi energi angin secara umum kecil karena kecepatan angin pada umumnya rendah yaitu antara 3 – 5 m/detik. Tetapi pada daerah tertentu dikawasan Indonesi Timur, kecepatan anginnya lebih dari 5 m/detik. Energi&lt;br /&gt;angin ini dapat digunakan untuk listrik pedesaan, pompa air dan aerasi tambak udang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum potensi energi samudera memenuhi syarat untuk dikembangkan. Energi itu tetdiri atas beberapa jenis, yaitu: energi gelombang dan energi pasang surut. Energi yang&lt;br /&gt;terkandung dalam gelombang, berkisar antara 20 - 70 kW/m, yang diukur pada rata-rata garis&lt;br /&gt;depan gelombang, artinya gelombang pantai sepanjang 1 km dapat menghasilkan daya sebesar&lt;br /&gt;20 - 70 MW, luar biasa bukan? Jika daya tersebut dikonversikan menjadi listrik dengan efisiensi 50 % akan dihasilkan listrik sebesar 10 -35 MW. Energi terbarukan dapat menghemat pemakaian energi fosil yang signifkan, namun potensi litu tidak akan ada artinya sama sekali&lt;br /&gt;apabila belum ada kebijakan investasi dan pendanaan serta kebijakan insentif dari pemerintah untuk mendorong pemanfaatannya mengingat pada tahap komersial harga energi terbarukan belum dapat bersaing secara komersial.&lt;br /&gt;Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai warga negara,yaitu mari mulai membudayakan sikap&lt;br /&gt;hidup hemat energi dari diri kita, yaitu : hemat pemakain listrik, air, BBM, dan mengurangi&lt;br /&gt;kebiasaan yang cenderung boros energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Wahyudin Alisyakir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saat ini menjabat sebagai Safety Engineer di sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Uap dengan Kapasitas 2 x 700MW, PT.YTLJT, Paiton, Probolinggo Jawa Timur.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28104430-115041008834070482?l=hse-club-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/115041008834070482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28104430&amp;postID=115041008834070482&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/115041008834070482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/115041008834070482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/2006/06/energi-terbarukan-dan-konservasi.html' title='Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Konservasi Hijau)'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430.post-115034663681353299</id><published>2006-06-15T11:38:00.000+07:00</published><updated>2006-06-15T11:43:56.880+07:00</updated><title type='text'>Bumi Karam: Global Climate Change</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Bumi Karam: Global Climate Change&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2006 ini, tepat sebulan setelah Hari Air Sedunia, bertema Climate Change Solutions atau Solutions to Climate Change dan ini terkait dengan Population Growth. Artinya, ada korelasi yang sangat kuat antara perubahan iklim Bumi dan pertumbuhan penduduknya. Muncullah kampanye untuk menanggulangi perubahan iklim: Climate Change Solutions Campaign&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahsyat. Inilah kata yang pas untuk menilai pertambahan jumlah manusia. Betapa pesatnya perkembangan penduduk Bumi ini bisa dilihat pada jumlah penduduk tahun 1950 yang berjumlah 2,5 Miliar. Dalam tempo 55 tahun, yaitu tahun 2005 jumlahnya sudah 6,2 Miliar. Dan sekarang, tahun 2006 ini, pada bulan April ini, pasti lebih dari itu. Kira-kira 6,5 M. Kemudian, pada saat yang sama, greenhouse gases seperti karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya terus meningkat lantaran peningkatan penggunaan BBM, zat kimia dan penebangan hutan. Dampaknya adalah kenaikan temperatur rerata Bumi. Ini terbukti. Dekade terpanas di Bumi terjadi pada akhir abad ke-20, yaitu tahun 1990-an. Dan tahun terpanas satu dekade terakhir ini adalah tahun 1998, 2001, dan 2005. Kondisi panas ini akan ajek naik jika tren sekarang terus bertahan atau malah kian parah. Inilah yang akan menimbulkan Global Warming, pemanasan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dampak Global Warming itu? Yang sudah diyakini adalah kenaikan muka laut sehingga pulau-pulau kecil terendam bahkan tenggelam, pantai menyempit, intrusi air laut sehingga mengurangi suplai air bersih. Terjadi reduksi luas pulau yang dapat memunculkan masalah kependudukan dan gangguan kesehatan masyarakat karena memicu gelombang panas yang kian parah dan lama paparannya. Pola hujan dan salju pun ikut berubah yang otomatis mengganggu pola suplai air bersih, terutama di daerah yang krisis air. Global Warming dan ledakan jumlah penduduk juga mengancam kekurangan pangan sehingga terjadi eksploitasi lahan baru di gunung, bukit, dan hutan, di dataran banjir, dan di lahan basah. Semuanya terpaksa dieksploitasi demi penyediaan kebutuhan pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bertanggung jawab? Semua orang di Bumilah yang bertanggung jawab. Sebab, setiap orang pasti mengeluarkan CO2 selama hidupnya. Tetapi secara khusus, orang-orang yang hidup di negara-negara industrilah yang sangat banyak menggunakan bahan bakar fosil. Sebetulnya emisi CO2 dari manusia relatif konstan selama 30 tahun terakhir ini. Namun demikian, ada data bahwa emisi orang Amerika Serikat lima kali lebih besar daripada orang Meksiko dan bahkan 19 kali lebih besar daripada orang India. Malah ada data lain yang mengatakan bahwa 20% manusia Bumi yang berada di negara maju justru kontribusinya mencapai 63% dari total emisi. Jika dihitung berdasarkan negara maka Cina memang pengemisi terbesar lantaran jumlah penduduknya terbanyak, walaupun faktanya emisi tujuh orang Cina itu setara dengan satu orang Amerika Serikat. Tujuh orang setara dengan satu orang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah faktanya sekarang. Barangkali kita tak pernah peduli akan hal itu. Kita acuh tak acuh dan bersikap bahwa itu bukan urusanku. Urusanku sudah banyak dan sudah memumetkan kepalaku. Boleh-boleh saja dan mungkin sangat-sangat banyak yang berpikir demikian. Bumi tenggelam atau tidak, itu bukan urusanku! Urusanku cuma satu, yaitu hidup senang dan gembira selamanya. Andai Bumi ini tenggelam, aku mungkin sudah lama mati dan mungkin cucu-cicitku pun sudah lama pula mati. Buat apa aku stres sekarang? Itu kan masih lama. Demikianlah ungkapan orang-orang yang pernah diskusi perihal Global Warming yang saya dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Water World&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bumi tenggelam? Kapan Bumi ini tenggelam? Mari kita kilas balik sebentar ke sinema layar lebar masa lalu, satu dekade lalu, yaitu Water World. Pemeran utamanya adalah Kevin Kostner. Dalam film itu dia dan teman-temannya kehilangan rumah, tanah dan air. Mereka hidup di atas kapal seperti Nabi Nuh. Mereka bertarung melawan kelompok lain untuk mendapatkan sejengkal tanah dan air tawar. Ini terjadi lantaran es di kutub mencair akibat pemanasan global dan air lautnya meluap. Hanya air asin yang ada di mana-mana sehingga sang “Dances With Wolves” itu harus mendaur ulang air kencingnya untuk sekadar minum. Dulu, film buatan tahun 1995 ini mencatat box office, termasuk di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data ilmiah didapat bahwa telah terjadi peningkatan temperatur troposfer (atmosfer lapisan terbawah) sejak awal abad lalu. Lantas hadir sejumlah teori tentang kenaikan muka air laut seperti Teori Lebur (Melting Theory), yakni pencairan “pulau” es di kutub. Data pasang surut di sejumlah negara memberikan gambaran bahwa fenomena itu betul-betul terjadi. Tapi data tersebut hanya memberikan gambaran kondisi setempat yang cenderung bersifat lokal. Ini perlu dicermati karena ada dua perubahan penting yang mungkin terjadi, yaitu perubahan ketinggian muka air laut karena daratan bergerak relatif terhadap lautan (perubahan isostatik) dan perubahan karena penambahan volume air laut dari pencairan es dan salju (perubahan eustatik) yang ada di daratan atau kontinental (benua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian, akan mencairkah es di Kutub Utara dan Kutub Selatan? Sementara kalangan meyakini bahwa es di kedua kutub itu akan mencair jika temperatur global atmosfer terus naik. Es yang berubah menjadi air lalu masuk ke laut sehingga permukaannya naik dan membanjiri daratan, bahkan menelan pulau-pulau kecil seperti disebut di atas. Tapi ada pendapat lain, yaitu ada beda karakter antara Kutub Utara (Artik) dan Kutub Selatan (Antartika). Kutub Selatan adalah daratan yang dilapisi es. Jadi berupa landas kontinen/benua yang tertutup es. Sebaliknya Kutub Utara adalah air laut yang membeku membentuk “pulau” dan gunung-gunung es. Dengan demikian disimpulkan bahwa Kutub Utara, selain Greenland, adalah bongkahan es yang terapung-apung di laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika temperatur global betul-betul naik ekstrim, apa yang akan dialami oleh lempeng atau bukit-bukit es di kedua kutub tersebut? Jika “pulau-pulau terapung” di Artik mencair maka tak akan banyak mempengaruhi ketinggian muka air laut! Kenapa? Analoginya adalah gelas yang penuh air berisi sepotong es yang menyembul di permukaannya. Walaupun es itu habis mencair tetapi air di gelas tidak akan tumpah. Ini mengikuti prinsip hukum Archimedes. Pencairan es di Artik hanya mengubah wujudnya saja menjadi cair tetapi tidak punya efek yang cukup untuk menaikkan permukaan air laut! Jadi... kita bisa sedikit lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal sebaliknya bisa terjadi di Antartika. Gunung es dapat mempengaruhi ketinggian muka air laut. Volume total esnya cukup besar untuk menambah volume air laut. Tapi perlu dicatat bahwa karakter sistem lingkungan Antartika sangat, sangat dingin. Temperaturnya jauh di bawah titik nol sehingga esnya tidak akan mencair! Jadi pemanasan global takkan mampu mencairkan es di Antartika karena temperaturnya akan tetap berada di bawah nol. Jika panas global mengakibatkan temperatur di kutub dapat mendekati nol sehingga es mulai mencair maka dipastikan semua manusia di Bumi sudah mati akibat heat stroke sebelum berdampak pada kenaikan muka air laut. Dan ini tak kalah mengerikan jika dibandingkan dengan banjir sejagat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, kontradiksi saja dapat terjadi. Kenaikan temperatur di Kutub Selatan menyebabkan air laut di sekitarnya menguap. Hembusan angin membawa uap itu ke Kutub Selatan yang akhirnya jatuh dan membeku di daratan Antartika. Jika proses ini berlangsung terus maka sejumlah air pindah dari laut ke darat yang berarti justru terjadi penurunan muka air laut! Sekali lagi saya tulis, justru terjadi penurunan muka air laut! Artinya, pantai kita meluas sehingga meluas pula tempat untuk rekreasi dan membangun Water Front City. Namun, mungkinkah hal ini terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Salju abadi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Bagaimana dengan salju abadi? Jika pemanasan global mempunyai efek pada pencairan es di Artik dan penguapan air laut di sekitar Antartika sehingga permukaannya turun, apakah secara global air laut akan tetap naik? Sulit sekali menjawabnya dengan pasti, karena bergantung pada jumlah volume es yang mencair di Artik dan jumlah volume air laut yang menguap dan membeku di daratan Antartika. Terlihat bahwa kasus ini tidak sesederhana yang diduga sebagian kalangan bahwa jika Bumi memanas maka terjadi pencairan es yang akibatnya muka air laut ikut naik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bumi ini banyak ada es dan salju abadi seperti di Pegunungan Jaya Wijaya Papua, di Pegunungan Himalaya India dan beberapa pegunungan tinggi di Eropa. Pada akhir abad 20 lalu ada indikasi salju/es tersebut mencair. Jika pemanasan global berlanjut, boleh jadi semuanya akan cair. Bongkahan es di Greenland pun dapat menaikkan muka air laut jika mencair. Meier, peneliti gletser, menduga terjadi kenaikan 2,8 cm muka air laut selama periode 1900-1961. IPCC (Inter-governmental Panel for Climate Change) memperkirakan akan terjadi kenaikan muka air laut sampai 29 cm pada tahun 2030 dan pada tahun 2070 menjadi 71 cm atau hampir 1 meter pada akhir abad 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betulkah demikian? Pemanasan global, secara teori dan ada sejumlah fakta, dapat mencairkan salju dan es yang mengakibatkan muka air laut naik. Tetapi mungkinkah temperatur atmosfer bawah Bumi naik sekian puluh derajat sehingga semua es di Bumi mencair? Mungkinkah pada saat itu manusia masih hidup dan hidupnya pun di atas kapal seperti Kevin Kostner dalam film Water World-nya atau seperti Nabi Nuh a.s?***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28104430-115034663681353299?l=hse-club-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/115034663681353299/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28104430&amp;postID=115034663681353299&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/115034663681353299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/115034663681353299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/2006/06/bumi-karam-global-climate-change.html' title='Bumi Karam: Global Climate Change'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430.post-115034629314305848</id><published>2006-06-15T11:35:00.000+07:00</published><updated>2006-06-15T11:38:13.463+07:00</updated><title type='text'>Tinjauan Terhadap Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tinjauan Terhadap Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) adalah instrumen untuk mendorong penaatan dan kepedulian perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Mekanisme mendorong penaatan dilakukan melalui penyebaran informasi tingkat kinerja penaatan perusahaan kepada publik dan pemangku kepentingan (public information disclosure). Diharapkan masyarakat dan pemangku kepentingan dapat mensikapi kinerja pengelolaan lingkungan perusahaan sesuai dengan kapasitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelaksanaan PROPER 2002–2005.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Jumlah perusahaan yang diikutsertakan dalam PROPER tahun 2002–2003 sebanyak 85 perusahaan. Tahun 2003-2004 terjadi peningkatan peserta menjadi 251 perusahaan. Dalam periode penilaian 2004-2005 ditingkatkan menjadi 466 perusahaan. Berdasarkan data yang ada memang untuk 251 perusahaan yang sama selama periode penilaian 2003-2004 dan 2004-2005 terjadi penurunan jumlah perusahaan yang berperingkat merah dan hitam. Pada periode penilaian 2003-2004 terdapat 128 perusahaan berperingkat merah dan hitam. Sementara untuk periode penilaian 2004-2005 tinggal 90 perusahaan yang berperingkat merah dan hitam.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Namun jika dilihat secara keseluruhan peserta periode penilaian 2002-2005 jumlah perusahaan yang berperingkat merah dan hitam masih dalam jumlah yang relatif cukup besar. Pada periode 2002-2003 terdapat 26 (31%) perusahaan dari 85 perusahaan yang berperingkat merah dan hitam. Periode 2003-2004 terdapat 128 (51%) perusahaan dari 251 perusahaan yang berperingkat merah dan hitam. Sementara untuk periode 2004-2005 masih terdapat 222 (47%) perusahaaan yang berperingkat merah dan hitam dari 466 perusahaan. Oleh karenanya PROPER sebagai salah satu kebijakan publik dalam pengelolaan lingkungan masih belum optimal sehingga masih perlu dikaji lagi baik dari pelaksanaannya maupun perangkat peraturannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PROPER Sebagai Kebijakan Publik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;PROPER sebagai salah satu kebijakan publik merupakan produk administrasi negara sebagai alat untuk memengaruhi kinerja pemerintah dalam mengemban amanat untuk kepentingan publik dalam hal ini masalah pengelolaan lingkungan. Perkembangan negara RI yang dinamis dan dalam semangat otonomi daerah yang begitu kuat tentunya perlu direspon oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini KLH dalam menangani masalah pengelolaan lingkungan. Dalam era otonomi daerah pasca direvisinya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang-undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah maka peran Pemerintah Pusat adalah menangani masalah lingkungan hidup skala nasional dan secara kelembagaan sebagai pembina dan pengawasan terhadap penanganan masalah lingkungan hidup di daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya perlu dicermati bagaimanakah pelaksanaan PROPER berjalan selama ini. Alur prosedur penilaian PROPER dilakukan sebagian besar oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini KLH (pada penilaian PT. FI sudah melibatkan Pemprov Papua dan Pemkab mimika) dan baru pada tahap akhir penilaian ada sebuah komite yaitu Dewan Pertimbangan yang bertugas untuk mengevaluasi hasil kerja Tim Teknis KLH. Sementara aparatur daerah dan sektor yang terkait belum dilibatkan untuk turut serta dalam penilaian. Hal ini penting karena masalah pengelolaan lingkungan hidup bukan eksklusif milik KLH semata, karena selama ini KLH juga selalu mewacanakan bahwa masalah lingkungan hidup merupakan masalah yang lintas sektoral&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Terobosan Untuk Meningkatkan Kualitas PROPER&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Umumnya sebuah kebijakan publik yang setiap saat perlu diperbaiki untuk penyempurnaan hasilnya maka begitu juga dengan PROPER yang masih terbuka untuk beberapa terobosan. Menurut Koesnadi Hardjasoemantri (2006) sistem pemeringkatan dapat dibuat lebih luas untuk perusahaan yang berada pada kategori merah dan hitam yang sudah melakukan usaha-usaha perbaikan pengelolaan lingkungannya walaupun belum memenuhi baku mutu atau standar yang ada. Jadi nantinya terdapat peringkat merah merah plus dan merah minus atau hitam plus dan hitam minus. Selain itu, perusahaan yang telah mendapat peringkat hijau empat kali berturut-turut, sebaiknya naik peringkat menjadi emas. Pasalnya, untuk kategori emas berbagai indikatornya sangat sulit dicapai oleh industri (Petrominer, September 2005).&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Di samping itu industri atau perusahaan yang menjadi obyek dari kebijakan publik juga perlu didengar masukannya. Indonesian Mining Association (IMA)  atau asosiasi tambang Indonesia melontarkan gagasannya melalui Direktur Eksekutifnya bahwa perusahaan yang berturut-turut mendapat peringkat buruk (merah dan hitam) dikenakan pinalti. Mereka diharuskan membayar denda kepada pemerintah, selanjutnya dana yang terkumpul dari denda tersebut disalurkan untuk mempertahankan atau menambah fasilitas pengolahan limbah bagi industri yang berperingkat baik. Dengan demikian secara psikologis akan memacu dan memicu industri yang buruk untuk memperbaiki kinerja pengelolaan lingkungannya (Petrominer, September 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;PROPER sebagai suatu produk kebijakan publik diharapkan dapat mengatasi masalah lingkungan hidup. Dalam mengatasi masalah lingkungan hidup di era otonomi daerah sangat penting kerjasama atau koordinasi dengan Pemerintah Daerah, sektor-sektor terkait serta industri itu sendiri yang menjadi obyeknya. Dalam rangka meningkatkan partisipasi industri untuk memperbaiki pengelolaan lingkungannya tentu manfaat dari PROPER itu sendiri harus dirasakan oleh industri tersebut baik dari perusahaan yang berkategori baik (hijau dan biru) maupun yang masih dalam kategori buruk (merah dan hitam).&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Selain itu kesan selama ini sebagai aparatur pemerintah yang dianggap “mencari-cari kesalahan” dalam melaksanakan tugas pengawasannya perlu diubah dengan paradigma pelayanan publik yang siap membantu bila terjadi permasalahan atau kesulitan pada industri yang berpartisipasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*) Penulis adalah mahasiswa program pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia; pernah bekerja sebagai staf lingkungan  PT. PPLi dan Konsultan ISO 14001&lt;br /&gt;Kontak dengan penulis : &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:a_nando@email.com"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;a_nando@email.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; atau 0856 898 0397&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28104430-115034629314305848?l=hse-club-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/115034629314305848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28104430&amp;postID=115034629314305848&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/115034629314305848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/115034629314305848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/2006/06/tinjauan-terhadap-program-penilaian.html' title='Tinjauan Terhadap Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper)'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430.post-115032477087807409</id><published>2006-06-15T05:34:00.000+07:00</published><updated>2006-06-15T05:39:31.003+07:00</updated><title type='text'>Water &amp; Culture, Hari Air Sedunia 2006</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Water &amp; Culture, Hari Air Sedunia 2006&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan Hari Air Sedunia (HAS) ke-14 tahun 2006 ini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) khususnya Unesco merayakannya dengan tajuk Air dan Budaya. Kenapa demikian? Dalam publikasinya Unesco merilis sejumlah alasan yang berkaitan dengan fakta relasi antara air, budaya, agama atau kepercayaan yang intinya air memainkan peran utama. Dalam setiap ritus agama dan kepercayaan ada saja pelibatan air di dalamnya. Selain itu, air pun sumber hidup yang bahkan dinyatakan sebagai materi ?? pelahir?? kembali. Bayangkan lahan tandus selama musim kemarau, akan mulai berumput setelah diguyur hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Air, Budaya, Agama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam produk budaya sekarang pun air terus mengambil peran penting. Air masuk ke taman-taman di rumah, permukiman, dan perkantoran. Bahkan resort dan tempat peristirahatan dibuat dekat air seperti halnya water front city/resort. Di taman-taman ujudnya bisa berupa kolam air mancur dengan beragam ornamennya dan ditumbuhi teratai (lotus). Ada juga yang dihiasi dengan patung, candi dan beragam bunga. Betapa dekat dan lekatnya budaya Bali dengan air bisa dilihat di Pura Ulun Danu di Danau Beratan, di kaki Gunung Batukaru, Tabanan. Saksikan juga di Tirta Empul dan Taman Ayun. Bahkan pura Tanah Lot pun lebur dengan air laut pasang setiaphari, selama-lamanya. Yang luar biasa adalah kaitan antara air dan agama Hindhu khususnya pada ritual Kumbh Mela di India. Ritual yang diselenggarakan di Sungai Gangga ini dihadiri oleh 30 juta orang peziarah dan berisi keajaiban. Berikut ini komentar Dr. F.C. Harrison yang dikutip Shiva. Menurut fakta yang janggal, yang belum pernah dijelaskan secara memuaskan, adalah begitu cepatnya (tiga sampai lima jam) kuman kolera mati di Sungai Gangga. Ketika seseorang mengingat banyaknya kotoran yang dibuang para penduduk, yang sering merupakan penderita kolera, dan ribuan penduduk yang mencebur ke sungai, tampak sungguh luar biasa bahwa kepercayaan orang Hindhu, bahwa sungai ini memiliki air yang murni dan tidak bisa tercemar dan mereka bisa dengan aman meminum airnya dan mandi di dalamnya, bisa dibuktikan dengan alat penelitian bakteriologi modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ajaran agama Budha juga ada pelibatan air, misalnya dalam prosesi atau upacara pemakaman atau penguburan jenazah. Begitu pun agama Yahudi juga menggunakan air dalam ritual mandinya atau Mikveh khususnya pada hari Jumat atau sebelum perayaan besar. Perempuan Yahudi juga wajib Mikveh sebelum menikah dan setelah melahirkan dan menstruasi. Manfaat air yang begitu besar juga terjadi pada agama Kristen-Katolik, seperti dalam ritual baptis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kepercayaan Shinto di Jepang, air terjun justru memberikan rasa kesakralan. Air bagi orang Jepang memberikan kesetimbangan antara manusia, alam dan dewa. Pada saat yang sama mereka memuliakan Matahari, dewa Amiterasu Omikami, sebuah bintang yang mampu menguapkan air laut dan membawanya ke darat berupa hujan, yaitu siklus hidrologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam juga demikian. Air selalu dibutuhkan saat wudhu dan mandi jinabat. Bahkan ditegaskan oleh ayat 30 surat Al Anbiyya bahwa semua yang hidup diciptakan dari air. Dan terbukti, 75 persen tubuh manusia adalah air. Malah kata air dalam kitab suci kaum muslim itu disebut sebanyak 63 kali. Tingginya kesakralan air tampak dari ungkapan ini: tirtha nirmala, tirtha kamandalu, amrta njiwani (Sansekerta), maaul hayat (Arab), nectar-ambrosia (Yunani), the elixir of life, the liquid of life (Inggris), air suci (Indonesia). Tapi jauh sebelum ini, pada masa silam nilai spiritual atau pendewaan air telah luas dikenal. Di Prancis, di dekat Sungai Seine, ada kuil suci untuk Dewa Sequana. Sungai Marne asal-usul namanya dari Matrona yang artinya Dewi Ibu. Cikal nama Sungai Thames di Inggris ialah Tamesa atau Tamesis yang terkait dengan makna ketuhanan. Sungai Nil di Mesir tak lepas dari Fir???aun dan Nabi Musa. Adapun Sungai Amazon di belantara Brasil, Amerika Latin dihuni suku pemulia dewa-dewi. Sungai Euphrates dan Tigris di Irak dihormati kaum Babylonia dan Mesopotamia.Namun demikian, air ternyata telah memicu konflik. Air pun menjadi salah satu alat atau senjata pamungkas dari Sang Creator untuk menghapus konflik antara Nabi Nuh dan penentangnya. Qur’an menandaskan, hujan deras terus menerus telah menenggelamkan pelawan Nuh. Sebaliknya Nuh, umatnya dan binatang lainnya selamat berlayar dengan kapal yang dibuatnya di puncak bukit. Pada zaman Nabi Musa juga ada peran air di dalamnya, yaitu air laut Merah. Musa dan pengikutnya memutus laut dan melewatinya dengan selamat. Namun ketika Fir’aun dan balatentaranya masuk ke laut, air laut pun lantas menyatu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Budaya, Upaya Privatisasi PDAM&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Air demikian kuat melekat pada budaya dan agama. Itu juga berarti PDAM dapat membentuk budaya masyarakat setempat, khususnya dalam pembiasaan hidup bersih. Sanitasi dan higiene tak lepas dari PDAM, tak hanya air untuk minum tapi juga untuk mencuci, menjalankan proses produksi pabrik dan komersial. Itu sebabnya, air sebagai hajat hidup orang banyak, perlu dilindungi dan didekatkan kepada masyarakat. Kegiatan manusia, sebagai produk budaya, sangat perlu air olahan PDAM. Masuk akallah kehendak banyak pihak agar PDAM mandiri dan berkembang luas sambil tetap berpihak pada masyarakat. Keberpihakan ini memang tampak berkurang ketika PDAM mengarah ke privatisasi. Tapi untunglah tak semua PDAM setuju atas privatisasi itu. Sebab, jika dilihat dari substansinya justru privatisasi itu melecehkan PDAM. Lebih jauh lagi, ia melecehkan pemerintah daerah karena pegawai PDAM dianggap tak mampu dalam skill dan manajerial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta kita tahu, privatisasi itu telah luas menguasai perusahan air di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Istilahnya, terjadi kolonialisme sektor air oleh negara-negara utara atas negara-negara selatan yang notabene negara miskin. Yang terakhir, alasan terkuat menentang privatisasi justru karena air adalah pembentuk budaya persis seperti tema HAS: Water &amp; Culture. Alasan terkuatnya, air adalah HAM, Hak Asasi Manusia, hak dasar, hak yang tak mungkin diganti oleh hak lain. Hanya saja, faktanya sekarang, justru isu HAM ini dijadikan senjata oleh pihak pro untuk kampanye privatisasi air. Seolah-olah isu privatisasi menjadi demikian penting dan mendesak sambil menuduh bahwa insan PDAM tak mampu dalam hal penyediaan air bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal faktanya, privatisasi lebih banyak menyengsarakan PDAM dan rakyat. Ini contohnya. Yang pertama adalah PDAM Kabupaten Karawang. Di PDAM ini pernah terjadi kekacauan manajemen lantaran airnya dikelola oleh PT Cikampek Tirta Manunggal (CTM) atau PT Wahana Abdi Tirta Sejahtera (WATS) untuk masa 25 tahun. Tapi yang terjadi, PDAM makin rugi dan konsumen jauh lebih rugi lagi. Itu sebabnya, pelanggan memprotes PDAM tersebut termasuk memprotes keras PT CTM atau WATS. Selanjutnya PDAM Kabupaten Pati. Secara diam-diam, tanpa diketahui oleh publik, PDAM di daerah punuk unta Jawa Tengah ini sudah pula diprivatisasi. Alhasil, pelanggan lagi yang rugi. Kabar jatuhnya PDAM Pati Jawa Tengah ke pihak swasta sudah lama terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu yang paling keras gelombang protesnya terjadi di PDAM Jakarta. PAM Jaya ini berkali-kali diprotes oleh masyarakat dan DPRD karena kerjasamanya dengan Palyja dan Thames Jaya merugikan pelanggan, minimal karena tarifnya naik terus. Di pihak lain, servisnya belum juga memuaskan pelanggannya. Dua korporasi asing itu adalah raksasa air dunia yang bermetamorfosis menjadi monster air gigantisme. Palyja di bawah setir Suez Lyonnaize des Eaux, Prancis dan Thames dikendalikan oleh Thames Water, Inggris. Bisnis keduanya telah mencengkeram erat sumber daya air di lebih dari 120 negara. Begitu tulis Vandhana Shiva, seorang saintis asal India di dalam bukunya, Water Wars.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korporasi mondial lain yang juga dari Prancis adalah Vivendi Environment dan yang dari Spanyol ialah Aguas de Barcelona. Selain Thames Water, di Inggris juga ada United Utilities dan Biwater. Yang disebut terakhir ini, yakni Biwater, telah pula menikahi PT Bangun Cipta Kontraktor, kontraktor dominan yang membangun IPAM (instalasi pengolah air minum) di Batam dan salah satunya adalah IPAM Mukakuning yang menjadi kantor pusatnya, untuk mengelola PT Adhya Tirta Batam lewat anak perusahaannya Cascal BV sampai tahun 2020. Setelah itu bisa diperpanjang lagi. Akibatnya, ketika raksasa itu masuk ke Indonesia, tarif air pun naik dan tidak pernah turun. Memang diakui, mereka ada mengelola air gratis untuk masyarakat miskin marjinal, tetapi nilai investasinya tak sepadan dengan labanya dari raupan air milik publik Indonesia. Mereka lihai mempublikasikan lewat berbagai-bagai media perihal kepeduliannya terhadap orang miskin termasuk ke daerah-daerah bencana seperti tsunami di Aceh dan Nias. Adakah ini kamuflase?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, perlulah PDAM matang-matang mempertimbangkan upaya privatiasi agar tak kepalang basah. Harga diri bahwa insan PDAM masih mampu mengelola PDAM dengan kekuatan sendiri menjadi spirit untuk bertahan. Swakelola jauh lebih baik daripada hanya mendapatkan secuil saja dalam ujud pajak. Janganlah kasus Freeport di Papua atau kasus Blok Cepu antara Pertamina dan ExxonMobil terjadi di PDAM. Semoga.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28104430-115032477087807409?l=hse-club-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/115032477087807409/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28104430&amp;postID=115032477087807409&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/115032477087807409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/115032477087807409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/2006/06/water-culture-hari-air-sedunia-2006.html' title='Water &amp; Culture, Hari Air Sedunia 2006'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430.post-115032447517346771</id><published>2006-06-15T05:29:00.000+07:00</published><updated>2006-06-15T05:34:35.200+07:00</updated><title type='text'>REFORMASI : MENATA ULANG BASIS EKOSISTEM</title><content type='html'>&lt;strong&gt;REFORMASI : MENATA ULANG BASIS EKOSISTEM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. APA YANG TERJADI ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ekosistem bumi kita tengah mengalami perusakan pada berbagai skala. Pada skala dunia di negara-negara berkembang antara tahun 1990-1995 terjadi penghilangan 65 juta ha hutan akibat overharvesting, konversi tanah untuk pertanian, kebakaran hutan dan lain-lain, sehingga sekitar 2 milyar ha tanah rusak terdegradasi dan mengancam kehidupan 1 milyar penduduk dunia. Antara tahun 1993-2002 bencana pada tingkat dunia mencapai 2654 kejadian dengan menelan kerugian lebih dari 603 milyar dolar Amerika. Bencana ini 40% berupa banjir, 30% badai, 10% kekeringan, 7% tanah longsor, 5% kebakaran, 5% temperature ekstrim dan hanya 3% karena gempa dan letusan gunung berapi. Pada tahun 1998 saja bencana yang terkait dengan iklim menelan biaya sama dengan biaya bencana untuk satu dasawarsa tahun delapanpuluhan.Pada skala nasional kerusakan hutan di Indonesia mencapai luas setara 6 lapangan sepakbola permenit dengan kerugian Rp 83 milyar perhari atau Rp 30 trilyun pertahun. Padahal menurut UU No.41 Tahun 1999 tentang kehutanan, minimal 30% dari luas pulau atau daerah aliran sungai (DAS) harus berupa hutan. Indonesia dengan luas daratan 200 juta ha dan jumlah penduduk lebih dari 210 juta jiwa memiliki luas hutan yang sudah berada di bawah 30%, sehingga perlu kebijakan dan upaya penghentian deforestasi secara mendasar dan mendesak. Akibat rusaknya hutan 31% dari 136 DAS besar di Indonesia berada dalam keadaan sangat kritis, 41% kritis, dan 28% agak kritis.Sementara itu pulau Jawa dengan luas 13,3 juta ha dan jumlah penduduk lebih dari 120 juta jiwa memiliki luas hutan yang sudah jauh dibawah 30% sehingga degradasi yang terjadi bukan saja di daratan namun juga terjadi di pantai dan laut Jawa, yang mengalami perusakan sangat signifikan berupa pelumpuran, pendangkalan, abrasi pantai, hingga turunnya tangkapan ikan para nelayan.Propinsi Jawa Barat dengan luas 3,7 juta ha dan jumlah penduduk diatas 3,6 juta jiwa memiliki luas hutan yang masih pada kondisi baik tinggal 7-9% saja. Gangguan terjadi karena pencurian kayu 80%, perambahan hutan 10%, kebakaran hutan 7%, dan karena bencana alam 3%. Kebutuhan kayu di Jawa Barat mencapai 2,5 juta m3/tahun, sementara kemampuan produksinya hanya sekitar 300.000 m3/tahun. Akibat nyata dari kerusakan hutan ini sudah sangat dirasakan berupa kemandegan dan turunnya tingkat produktivitas pertanian, mengalami kekurangan air dan kekeringan dimusim kemarau, serta mengalami banjir dan longsor dimusim penghujan. Bencana yang dihadapi Jawa Barat bukan saja berupa bencana alam dan lingkungan tetapi juga berupa bencana sosial dan ekonomi seperti bangkrutnya sebagian besar pabrik tekstil, berlipatgandanya jumlah penduduk miskin, serta ancaman berbagai penyakit baik yang disebabkan oleh virus, bakteri, parasit maupun pathogen lainnya seperti flu burung, demam berdarah, polio, malaria, anthrax, kusta, disamping penyakit kulit, pernapasan atau penyakit pencernaan yang biasa.Kota Bandung dengan luas lahan 16.729 ha dan jumlah penduduk 2,5 juta jiwa memiliki ruang terbuka hijau tinggal 1,5% yang seharusnya memiliki luas hutan kota paling tidak 10% (menurut PP No.63 Tahun 2002 tentang hutan kota). Curah hujan di tahun 1896 masih 3000 mm/tahun, saat ini hanya sekitar 2250 mm/tahun. Koefisien run-off di kota Bandung sudah mencapai 90% pada tahun 2004, padahal tahun 1960 masih sekitar 40%. Temperatur maksimum kota Bandung saat ini mencapai 34oC, padahal sebelumnya tidak pernah lebih dari 27oC. Kondisi hujannya semakin asam (pH 3,5) dan jumlah hari sehatnya tinggal 55 hari karena udara kota Bandung telah semakin tercemar. Kadar Pb dalam udara kota Bandung sudah diatas ambang batas sehingga bukan sekedar membahayakan kesehatan namun juga bisa berdampak buruk pada tingkat kecerdasan penduduknya dikemudian hari. Sungai di kota Bandung berjumlah 46 buah dengan panjang 268 km serta 77 buah mata air saat ini berada dalam keadaan sekarat. Kota Bandung tengah menghadapi masalah kekeringan kota. Muka air tanah sudah sangat menurun, dalam sepuluh tahun terakhir ini muka airtanah dangkalnya telah menurun hingga 10 meter dan airtanah dalamnya mencapai 80 meter, akibatnya terjadi landsubsidence sedalam 2 meter pada lahan seluas 5 x 3 km di daerah Dayeuh Kolot. Kondisi ini diperparah dengan kerusakan di Kawasan Bandung Utara (KBU) yang telah mencapai 70%. Kawasan ini merupakan kawasan lindung dan daerah tangkapan air hujan bagi cekungan Bandung dengan potensi 0,25 x 1,2 milyar m3/tahun, merupakan 60% dari sumber pasokan air tanah Kota Bandung serta merupakan infrastruktur alam untuk memelihara kestabilan iklim mikro Kota Bandung.Secara teoritis apabila fungsi kawasan lindung di hulu sub DAS sungai-sungai kecil Kota Bandung dapat dipulihkan, sebenarnya Kota Bandung tidak perlu mengalami kekeringan dan dapat memenuhi kebutuhan air warganya sepanjang tahun. Namun dengan kondisi kawasan lindung yang rusak , bila hujan tidak ada yang tersimpan atau meresap ke dalam tanah karena langsung melimpas. Penelitian menunjukkan bahwa potensi air yang bisa dimanfaatkan di musim kemarau tinggal 10% saja atau 28.750.000 m3/tahun, itupun kualitasnya sangat jelek karena tercemar oleh limbah, padahal kebutuhannya sudah mencapai 182.500.000 m3/tahun. Jadi sudah sangat defisit. Bayangkan menurut prediksi National Geographic, pada tahun 2015 kota Bandung berpenduduk 5,3 juta jiwa dengan kebutuhan air bersihnya 386.900.000 m3/tahun dengan basis kebutuhan air 200 liter/ orang/hari. Kalau kota Bandung bertambah penduduk 1 orang, berarti harus menyediakan air 200 liter/ orang/ hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. MENGAPA BISA TERJADI ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Nampak sekali dari kenyataan di atas kerusakan lingkungan di manapun sudah akan memberikan dampak secara multiskala, mulai dari skala mikro hingga skala global. Peran metabolisme planet bumi hasil proses fotosintesa di Indonesia pada iklim global sangat menentukan. Indonesia merupakan salahsatu dari paru-paru dunia selain Brasil di Amerika Selatan dan Konggo di Afrika Tengah yang mampu menyerap karbon dioksida hingga 2,5 kg per meter persegi pertahun. Gas CO2 ini kemudian dikonversikan menjadi gas oksigen yang dihirup oleh mahluk hidup di dunia. Lebih dari Brasil dan Konggo Indonesia memiliki kondisi laut yang luas dan dangkal serta matahari berlimpah sehingga memiliki konveksi air laut yang lebih aktif dan merupakan wilayah pembentuk awan paling aktif menjadi salah satu generator utama iklim global. Seharusnya kenyataan ini merupakan posisi tawar Indonesia yang tiada taranya dalam proses globalisasi. Sayang karena lingkungan lokalnya tidak terjaga dan iklim mikronya juga rusak sehingga Indonesia pun menjadi sangat rentan terhadap pengaruh dari perobahan iklim global.Berada diantara dua benua dan dua samudra iklim di Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh kejadian alam yang terjadi kedua benua dan kedua lautan tersebut. Fenomena terbentuknya kutub panas baik di lautan Pasifik maupun lautan Hindia menyebabkan iklim musim di Indonesia yang diakibatkan oleh pemanasan benua Asia atau Australia juga sangat dipengaruhi oleh perbedaan temperatur di bagian barat dan timur lautan Pasifik serta temperatur di bagian barat dan timur Lautan Hindia. Pengaruh El Nino dan La Nina (El Nino Southern Oscilation - ENSO) akan sangat terasa di bagian timur Indonesia dan bagian barat Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh pergeseran kutub panas di lautan Hindia (Indian Ocean Dipole Mode Event-IODM). Perobahan iklim dunia menyebabkan periode ulang ENSO yang biasanya terjadi selang 5-7 tahun kini cenderung sering muncul dengan selang 4 tahun, sementara periode ulang IODM yang semula terjadi selang 15 bulan pada waktu tertentu muncul pada selang 3-4 tahun juga.Dengan demikian multiskala iklim di Indonesia harus dipahami dengan baik. Iklim Indonesia selain dipengaruhi secara global juga dipengaruhi melalui perobahan regional iklim musim dengan ENSO dan IODM. Untuk mengurangi pengaruh iklim global dan regional tersebut bahkan untuk membangun kembali iklim global dan regional, Indonesia harus mampu membangun kembali iklim mikromya yang handal, dengan cara memanfaatkan dengan sebaik-baiknya kekhasan alam masing-masing pulau dan lembah-lembahnya, menyetop penebangan hutan, dan membangun kembali kawasan lindung di masing-masing wilayah.Eko-hidrologi daerah aliran sungai merupakan sebuah sistem komplek yang tidak boleh terputus. Siklus air ini merupakan serangkaian gudang air dan pengalirannya yang mencakup gudang air di atmosfir pada awan yang menggantung di puncak gunung atau bukit, gudang air di hutan, gudang air permukaan di sungai dan danau, gudang air tanah dangkal, gudang air tanah dalam dan gudang air di laut. Pada saat ini keberadaan gudang-gudang air dan pengalirannya tidak terjaga, sehingga rusak bahkan tercemar. Dengan hilangnya luas dan kualitas hutan siklus air ini terpotong justru pada tahap yang paling menentukan kesinambungannya. Hutan di gunung pada dasarnya adalah tangki air alami pada tempat yang paling tinggi. Hutan di gunung adalah bendungan air alami yang paling baik. Penelitian Dr.Eneas Salati dari Brasil menunjukkan total air hujan yang didaur ulang oleh hutan adalah sebesar 74,1% yaitu air yang kembali ke atmosfir oleh evaporasi daun 25,6% dan oleh transpirasi 48,5%, sementara limpasan dan air tanah sebesar 25,9%. Ini menunjukkan bagaimana hutan dapat menjadi pengendali kelembaban, penjaga iklim mikro, dan pembangkit hujan secara berkesinambungan. Sejumlah fungsi hutan di atas sangat ditentukan oleh keberadaan jumlah dan keberagaman tegakan pohonnya. Fungsi pepohonan sebagai makhluk hidup yang tidak bisa berjalan tentunya akan sangat menjaga keberadaan sumber kehidupannya. Di atas permukaan tanah pohon yang cukup besar akan menghasilkan oksigen sekitar 2 kg/pohon/hari, membuat udara dan teduh karena pohon menyerap panas 8x lebih banyak dari pada tanpa pohon, menjaga kelembaban karena menguapkan kembali ? air hujan ke atmosfir, menyerap debu, mengundang berbagai kehidupan lainnya, dan membuat keindahan. Sementara di bagian bawah tanah pepohonan membantu mrenyerapkan air ke dalam tanah, mengikat butir-butir tanah, dan mengikat air di pori tanah dengan gaya kapilaritasnya dan tegangan permukaan. Kekuatan air yang melekat di permukaan butir tanah ini akan mampu menahan air lainnya menjadi sebuah bendungan alami yang limpasan airnya justru berada dibagian tanah yang lebih dalam membuat aliran di dalam tanah.Sebagai sebuah negara kepulauan Indonesia sangat kaya dengan potensi airnya. Namun karena tidak memiliki kemampuan manajeman air yang tepat, utuh dan menyeluruh justru Indonesia saat ini merupakan negara pengimpor air paling besar. Dalam bentuk air maya Indonesia mengimpor sebesar 20,2 Giga m3 menurut neraca perdagangan air maya antar negara tahun 1995-1999. Air maya adalah sejumlah air yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk pertanian atau barang konsumsi. Untuk menghasilkan 1kg padi misalnya diperlukan 2700 liter air, 1 kg daging memerlukan 16.000 liter air, 1 kg kentang 160 liter air dan seterusnya. Dengan demikian kekuatan ekonomi dalam produk seperti itu sebenarnya berada pada kekuatan manajemen air, sementara pada saat yang bersamaan dengan jumlah penduduk yang sangat besar Indonesia merupakan pasar potensial bagi produk tersebut. Maka dengan kehancuran sistem manejemen airnya pasar Indonesia yang sangat besar itu justru akan dikuasai dan menjadi milik negara lain. Propinsi Jawa Barat dengan kekhasan alamnya karena letak dan topografinya memiliki potensi sumber air yang termasuk besar di dunia yaitu sebesar 81 milyar m3/tahun, namun karena kerusakan infrastruktur alamnya, pada musim kemarau ketersediaan airnya tinggal 8 milyar m3/tahun padahal kebutuhan totalnya sudah mencapai 17 milyar m3/tahun, sehingga setiap musim kemarau Jawa barat akan mengalami masalah kekurangan air. Apabila infrastruktur alamnya dalam keadaan baik karena pemulihan kondisi hutannya, maka ketersediaan air di Jawa Barat bisa dipelihara sebesar 25% dari potensi totalnya sepanjang tahun yaitu 20 milyar m3/tahun, yang berarti lebih dari cukup untuk memenuhi total kebutuhannya, yang memungkinkan petani di Jawa Barat dapat menggarap lahan pertaniannya sepanjang tahun menjadi jaminan alam peningkatan kesejahteraannya yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. APA YANG HARUS DILAKUKAN ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penataan kembali ekosistem harus dimulai dengan pemulihan infrastruktur alam berupa hutan, sungai, danau, pesisir dan sejenisnya. Infrastruktur buatan hendaknya dibangun justru untuk menguatkan dan menjaga kesinambungan manfaat infrastruktur alam bukan untuk menggantikannya, karena investasi dan biaya operasi infrastruktur alam adalah yang paling murah. Gunakan phyto-technology atau teknologi ramah lingkungan lainnya untuk maksud tersebut.Secara legal upaya di atas harus dimulai dengan penetapan tata ruang kawasan lindung dan peraturan yang mampu membudayakan perilaku yang seharusnya terjadi di kawasan tersebut. Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa, guna kepentingan keberkelanjutan. Di dalamnya bisa mencakup kawasan hutan lindung yaitu kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitar maupun bawahannya sebagai pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta memelihara kesuburan tanah; kawasan resapan air yaitu kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan, sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air; sempadan sungai yaitu kawasan sepanjang kanan kiri sungai, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai; kawasan sekitar waduk dan situ yaitu kawasan di sekeliling waduk dan situ yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsinya; dan kawasan sekitar mata air yaitu kawasan di sekeliling mata air yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi mata air.Secara regional Jawa Barat sudah menetapkan kawasan lindungnya sebesar 45% luas lahannya sebagai konsekwensi dari kekhasan alamnya berdasarkan kriteria objektif ketinggian dan kemiringan lahan, intensitas curah hujan, dan jenis tanah (Perda No.2 tahun 2003 tentang RTRW Propinsi Jawa Barat). Pada penerapannya di kabupaten dan kota sebenarnya harus dapat ditetapkan lebih luas dari kawasan lindung regional di atas, karena kebijakan setempat dapat menambahkan berbagai jenis kawasan lindung lokal berdasar kepentingan dan kearifan budaya setempat yang akan lebih menjamin kesinambungannya. Namun pada prakteknya saat ini justru kabupaten dan kota seolah tengah berlomba memacu pendapatan asli daerahnya dengan ekspansi kawasan budidayanya mengintervensi kawasan lindung tanpa memperhatikan kepentingan jangka panjang dan kaidah-kaidah kesinambungan. Tentunya hal ini akan sangat membahayakan semua pihak termasuk para investornya sekalipun, karena ketidakcermatan pertimbangan ekosistem dapat mengakibatkan bencana alam, bencana ekonomi dan bencana sosial yang seringkali bersifat irrevesibel.Secara khusus Kota Bandung harus melakukan penataan ekosistemnya berdasarkan batas-batas alamnya sebagai bagian dari sebuah cekungan alami cekungan Bandung, yang juga merupakan hulu dari sebuah daerah aliran sungai yang sangat penting yaitu sungai Citarum. Secara regional Cekungan Bandung harus memiliki kawasan lindung seluas 54% termasuk di dalamnya adalah kota Bandung, sehingga pengkajian luasan hutan kota di kota Bandung menjadi sangat menentukan. Potensi luas taman di kota Bandung saat ini mencapai 115,25 ha, bila ditambah dengan potensi ruang terbuka hijau lainnya seperti jalur hijau, pemakaman, jalur tegangan tinggi, jalur kereta api, kawasan konservasi termasuk Punclut, pekarangan rumah, perkantoran dan industri seluruhnya bisa mencapai luas 8.336,48 ha yang berarti hampir separoh dari luas kota Bandung 16.729 ha. Konsep ruang kota Bandung pasca reformasi mestinya merupakan sebuah kota hutan yang sangat ditentukan oleh jumlah dan jenis tegakan pohonnya, dan bukan lagi kota taman sekedar untuk keindahan. Pola kegiatan usaha di KBU sebagai kawasan lindung tidak dapat disamakan dengan kawasan yang sepenuhnya dialokasikan sebagai kawasan budi daya. Ekowisata yang harus dikembangkan adalah bukan yang bersifat large-scale and capital-intensive industrial tourism, melainkan suatu community, cultural, natural and landscape based turism yang melibatkan langsung masyarakat setempat sebagai salah satu pemain utamanya, bukan sebagai buruh pinggiran, satpam atau tukang kebun. Pengembangan ekonomi KBU hendaknya berbasis karakteristik fungsinya sebagai kawasan lindung (wanawisata, tahura, agrowisata, camping ground), kearifan budaya tatar sunda, dan keunikan lokal: G. Tangkuban Perahu, mata air panas, air terjun, patahan lembang, Cikapundung Hulu, Bosscha, gua Jepang, gua Belanda; dipadu dengan Homestay/ Bed and Breakfast yang memanfaatkan rumah-rumah penduduk yang layak untuk itu, tentu dengan dukungan pemda dan investor. Ekowisata harus dikelola dengan kaidah-kaidah berkelanjutan, sehingga menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal dan memberikan perlindungan bagi kawasan konservasi. Untuk menjamin keberlanjutan usaha ekowisata skala kecil dan menengah diperlukan dukungan aspek pengelolaan berupa kelembagaan, organisasi, tatacara, legaldan perlindungan; fungsi pengelolaan berupa perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan; serta unsur pengelolaan berupa sumber daya manusia, aliran dana, aliran informasi, dan kajian pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. LANDASAN TEORI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Terdapat 3 unsur penjamin kesinambungan yaitu tatanan ekosistem, evolusi nilai dan evolusi kelembagaan. Tatanan ekosistem akan melahirkan kebijakan infrastruktur baik yang alami maupun yang buatan untuk menjadi rujukan aplikasi dalam bentuk tatacara alat dan prosedur. Evolusi kelembagaan akan menata kembali aktivitas pemberdayaan dalam sektor-sektor kegiatan yang utuh. Sementara evolusi nilai akan memberikan rujukan pembudayaan membangun motivasi dan inisiatif untuk upaya pengembangan.Selain itu harus dipertimbangkan dipenuhinya 3 paradigma kesinambungan yaitu paradigma keterkaitan ekosistem (proses globalisasi), keterkaitan multiskala (keanekaragaman), dan keterkaitan kesejahteraan. Keterkaitan ekosistem menggeser pendekatan sistem terbuka menjadi sistem tertutup atau semi tertutup untuk meminimumkan penggunaan sumberdaya dan buangan yang tak bermanfaat. Dengan pergeseran tersebut akan terjadi pergeseran pula tolok ukur dari upaya peningkatan nilai tambah yang sebesar-besarnya (energetik) menjadi pertukaran nilai manfaat yang berkelanjutan (exergetik). Sehingga yang menjadi ukuran di lapangan bukan lagi penguasaan aktivitas hulu sampai hilir melaiankan membangun siklus-siklus keterkaitan pada semua tahapan proses. Globalisasi adalah kenyataan keterkaitan ekosistem ini tetapi hanya dianggap terjadi pada skala besar saja. Sebetulnya proses ini terjadi secara multiskala bukan hanya pada skala global melainkan juga pada skala nasional maupun lokal. Paradigma keterkaitan multiskala menciptakan keanekaragaman sebagai upaya alami untuk menyeimbangan keterbatasan sumberdaya alam terhadap kebutuhan yang senantiasa meningkat. Gerak multiskala tidak terpusat hanya pada satu poros putaran saja melainkan masing-masing skala memiliki mekanisme putarannya sendiri, sehingga paradigma ini akan mengubah pendekatan secara sentralistik menjadi pendekatan terdistribusi dengan menciptakan banyak kemandirian, banyak jenis keberagaman, sekalipun tetap berada pada satu keterkaitan ekosistem. Dalam bidang ekonomi penerapan paradigma ini menetapkan keberadaan skala perekonomian global, nasional, dan lokal yang masing?masing memiliki mekanisme pasar, finasial dan distribusinya yang spesifik. Skala global saat ini berbasis investasi multinasional dan pasar bebas, sementara ekonomi skala kecil mestinya berbasis pemeliharaan daya beli dan pasar sendiri. Bencana ekonomi akan terjadi bila penetapan kebijakan ekonomi melanggar paradigma dasar alam ini. Paradigma keterkaitan kesejahteraan terjadi karena manusia berbagi kesempatan kerja, tidak sekedar sekedar berbagi kekayaan. Kesempatan kerja akan terbuka sangat luas dengan ekonomi jasa yang dilandasi oleh mutu kemampuan dan kemauan sumberdaya manusia yang secara pendidikannya. Ekonomi Jasa akan mencakup 70% dari kegiatan perekonomian, akan merupakan kunci keberhasilan ekopnomi, serta akan mendorong sebagian masyarakat melayani kepentingan masyarakat lainnya (privatisasi layanan public pada masing-masing skala perekonomiannya).Implementasi struktur dan paradigma kesinambungan di atas perlu ditunjang oleh upaya pelembagaan pemberdayaan dan pembuadayaannya, yang akan mencakup lembaga keuangan, lembaga pasar, dan lembaga gudang serta penyampaiannya untuk upaya pemberdayaan ekonomi; serta keberadaan lembaga keyakinan , lembaga silaturahim, dan lembaga pendidikan untuk upaya pembudayaannya. Lembaga-lembaga diatas akan memiliki kesepadanan fungsi dan keterkaitan diantara upaya pemberdayaan ekonomi dan penegakkan nilai budayanya, saeperti dalam pengertian bank adalah lembaga keyakinan ekonomi sementara lembaga keyakinan pembudayaan haruys merupakan banknya aspirasi, pasar adalah silaturahimnya ekonomi dan lembaga silaturakhim harus merupakan pasarnya aspirasi, demikian pula gudang dan penyampaiannya adalah lembaga pembelajaran ekonomi dan lembaga pendidikan seharusnya merupakan storage and delivery nya nilai-nilai dan aspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. PENUTUP&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penataan kembali ekosistem nampaknya tidak dapat dilaksanakan hanya dengan memperhatikan kriteria kekhasan alamnya saja namun juga harus dengan secara mendasar menyertakan pertimbangan kearifan budaya setempat. Keraifan budaya sunda misalnya telah mampu mengungkap esensi keterkaitan ekosistemnya dengan istilah Siliasih yaitu harus saling mengasihi karena bersama-sama berada hanya dalam satu sistem alam, esensi keterkaitan multiskala dengan istilah Siliasah yaitu memberi keleluasaan hidup dan berpendapat untuk mampu menciptakan keberagaman, serta esensi keterkaitan kesejahteraan dengan istilah Siliasuh untuk saling berbagi kesempatan, sehingga mampu meraih Siliwangi yaitu sasaran sinergitas.Secara praktis di lapangan kearifan budaya sunda inipun memberikan rujukan yang sangat seksama seperti diungkapkan dalam pesan Saursepuh yang mengungkap perlunya pertimbangan keseksamaan penanganan daerah aliran sungai dengan kearifan nilainya :&lt;br /&gt;? Gunung - Kaian&lt;br /&gt;? Gawir - Awian&lt;br /&gt;? Cinyusu - Rumateun&lt;br /&gt;? Sampalan - Kebonan&lt;br /&gt;? Pasir - Talunan&lt;br /&gt;? Dataran - Sawahan&lt;br /&gt;? Lebak - Caian&lt;br /&gt;? Legok - Balongan&lt;br /&gt;? Situ - Pulasaraeun&lt;br /&gt;? Lembur - Uruseun&lt;br /&gt;? Walungan - Rawateun&lt;br /&gt;? Basisir - Jagaeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kalam cermati pula pesan Al-Quran dalam surat Qaaf (50) ayat 7-11 berikut:Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali mengingat Allah.Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba Kami, Dan Kami hidupkan dengan air tanah yang mati (Kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.Allah menurunkan air dari langit, lalu mengalir di lembah-lembah menurut ukurannya,… (Surat Ar Ra`Du (13) 17).Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu Kami menempatkannya di Bumi. Dan sesungguhnya Kami berkuasa untuk menghilangkannya. (Surat Al Mu`Minuun (23) 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BIODATA PENULIS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mubiar Purwasasmita, Lahir di Sumedang 27 Desember 1951, Anak ke-7 dari 10, Keluarga Hadjar Purwasasmita (Alm) guru dan pendiri Sekolah Guru B dan Sekolah Guru A di Sumedang, dan Ibu Rd.Robiah Soemawisastra (Alm) guru Sekolah Menengah Pertama di Sumedang. Menikah tahun 1979 dengan Mintarsih Binti H.Iyon sarjana ekonomi Unpad 1981. Pendidikan dasar dan menengah diikuti di kota Sumedang. Lulus Sarjana Teknik Kimia ITB Tahun 1975, Lulus Doktor Teknologi Pemrosesan di Institut Nationale Polytechnique de Lorraine di Nancy-Perancis tahun 1985. Lulus sarjana langsung bekerja di Pabrik Keramik PT KIA sebagai Insinyur Proses dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Produksi. Tahun 1978 kembali ke Kampus ITB menjadi dosen teknik kimia hingga saat ini, pernah menjadi Pembantu Rektor ITB Bidang Perencanaan, Pengembangan, dan Pengawasan (1993-1997), Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM-ITB) (1997-2000). Sejak tahun 2000 aktif sebagai Ketua Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda, serta Ketua Lembaga Kajian Strategis Paguyuban Pasundan. Sebagai Dosen, Peneliti dan Pengabdi kepada masyarakat telah melakukan banyak hal nyata dan bermanfaat, antara lain : Mengembangkan Bahan Tahan Api Asal Lokal untuk membuat Reaktor Gasifikasi (1975-1978), Mengembangkan Sistem Pengolah Sampah Terpadu dengan berbagai alat yang dikembangkan sendiri, serta memecahkan permasalahannya pada berbagai bidang spesifik (1987-1992), Studi Penyediaan Air Baku yang mencakup masalah pengambilan dan penyimpanannya untuk Skala Industri (1980-1985), Mengembangkan Reaktor Kimia Baru berupa Reaktor Unggun Tetap dengan Aliran Gas dan Cairan yang sangat cepat dengan Katalis Padat yang sangat kecil untuk cairan organik maupun air (Thesis Doktor) (1980-1985), Merancang Alat Ekstraksi berbagai Bahan Alam Hayati seperti minyak nabati, atsiri, insektisida alam dll. (1988-1990), Mengembangkan Konsep Multiskala menyangkut keberadaan Usaha Desa, Nasional, dan Global (1996-2000), Mengembangkan Teknologi Bersih (Ecotechnology) dan penerapannya pada Tambak Udang Superintensif, Olah Lahan Pertanian Secara Terpadu, dll. (1997-2000), Mengembangkan Sistem Pabrik Skala Kecil dengan Penerapan Terdistribusi berbasis pengembangan Masyarakatnya, antara lain untuk Pabrik Gula mini, Pabrik Air Minum dalam kemasan, Fasilitas Penunjang Kampung Nelayan, dst. (1999-2000), Menginisiasi Metoda Dialog Partisipatif Masyarakat untuk membangun Strategi Pembangunan Kota, Kawasan Lindung Regional, Budaya Perusahaan, dll. (1997-2002), Ikut serta memecahkan berbagai masalah lingkungan alam yang kritis, tentang Infrastruktur Alam seperti Hutan, Sungai, Danau, Pesisir, Pulau Kecil, Udara, Iklim Mikro, dst. (2000-2003), Kajian Fenomenologi Nilai untuk membangun Kepekaan Aspiratif guna meningkatkan Potensi Manfaat Iptek (1983-2003), Penghutanan Kembali Lahan Kritis berbasis Masyarakat Setempat (2003-2004), Mengembangkan alternatif energi rakyat terbarukan, dan Olah lahan pertanian secara seksama berbasis bioreactor (2005-2006).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28104430-115032447517346771?l=hse-club-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/115032447517346771/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28104430&amp;postID=115032447517346771&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/115032447517346771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/115032447517346771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/2006/06/reformasi-menata-ulang-basis-ekosistem.html' title='REFORMASI : MENATA ULANG BASIS EKOSISTEM'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430.post-114766116826529708</id><published>2006-05-15T09:39:00.000+07:00</published><updated>2006-05-15T17:02:34.266+07:00</updated><title type='text'>Confined Space Accident</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Diskusi Milis HSE Club Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hesti :&lt;br /&gt;Rekan Milis, Beberapa rekan mungkin paham tentang bahaya&lt;br /&gt;confined space, berikut mungkin ada yang bersedia&lt;br /&gt;mengomentari safety Feed back berikut:&lt;br /&gt;Di sebuah perusahaan pencarian Natural Gas sedang&lt;br /&gt;dilakukan maintenance (cleaning) di tangki Scruber. Manhole&lt;br /&gt;sudah di buka Critical Taks Analysis sudah di buat untuk&lt;br /&gt;menurunkan resiko dan diputuskan kira-kira sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Scrubber harus di purging dingan N2 (untuk&lt;br /&gt;memastikan tidak ada O2 yang masuk)&lt;br /&gt;menghilangkan salahsatu komponen fire Triangle.&lt;br /&gt;2. Untuk pengurasan sisa condensat digunakan jenis&lt;br /&gt;vacum eductor dengan rubber hose.&lt;br /&gt;3. Pekerja tidak diperbolehkan entry kedalam&lt;br /&gt;Scrubber tank.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setelah jam makan siang keadaan berubah.&lt;br /&gt;1. Supervisor miminta agar rubber hose diganti dengan&lt;br /&gt;Selang plastik karena rubber hose akan dipakai ditempat lain.&lt;br /&gt;2. Untuk memastikan sisa kondensat seorang pekerja&lt;br /&gt;mematikan valve N2 dan masuk kedalam tangki (pake SCBA).&lt;br /&gt;3. Ternyata masih ada sisa kondensat dibagian pojok, dan si&lt;br /&gt;pekerja ber-inisiatif untuk menghisap sisa kondensat dengan&lt;br /&gt;vacum eductor dan selang plastik....,&lt;br /&gt;4. Vacum eductor dinyalakan...., satu detik-duadetik dan&lt;br /&gt;BUUUMMMMM meledak.....,&lt;br /&gt;5. Sipekerja tewas dengan luka bakar.... berikut temannya&lt;br /&gt;yang waktu itu ada diluar....,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mari kita buat simulasi kira-kira apa yang salah dan&lt;br /&gt;bagaimana pendapat anda agar tidak terulang? Komentar&lt;br /&gt;rekan-rekan ditunggu.Salam,Hesti&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Budi:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Teman-teman,&lt;br /&gt;kalau saya boleh komentar sebenarnya ini ujung-ujungnya&lt;br /&gt;adalah Prinsip Segitiga Api.&lt;br /&gt;saya mau jabarkan takut dikira sok tahu..maafin anee yee..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hartono Peni: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Untuk point 4, kurang begitu detil,&lt;br /&gt;apakah vacum eductornya ada di luar atau dibawa masuk ke&lt;br /&gt;dalam tanki...seandainya dibawa masuk perkiraan saya alat&lt;br /&gt;yang di pakai Non IS atau IS tapi sudah tidak berfungsi&lt;br /&gt;dengan baik atau ada kabel listrik yang koneksinya tidak&lt;br /&gt;bagus....ini sebagai sumber panas/energi, perkiraan ini&lt;br /&gt;menjadi. salah jika yang digunakan adalah vacum dengan&lt;br /&gt;penggerak udara.&lt;br /&gt;Udara (O2) masuk.....terpenuhi konsentrasinya, saat N2&lt;br /&gt;ditutup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bahan bakar ada.... uap condensat dengan batas ring LEL -&lt;br /&gt;UEL terpenuhi.&lt;br /&gt;Bummmmm.........&lt;br /&gt;Silahkan mungkin yang lain...saya kira ini pelajaran yang&lt;br /&gt;sangat bagus sekali dan tidak mustahil bisa terjadi ditempat&lt;br /&gt;kita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Danang Jatmika:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;terjadinya gesekan antara sisa&lt;br /&gt;kondensat dengan selang plastik dapat menimbulkan listrik&lt;br /&gt;statik yang pada keadaan yang mendukung (kecepatan fluida&lt;br /&gt;mengalir di selang plastik) listrik yang dihasilkan dapat&lt;br /&gt;menimbulkan loncatan bunga listrik (ada yang pernah&lt;br /&gt;lakukan percobaan), kondensat Natural gas diramu dengan&lt;br /&gt;Oksigen dan sumber api jadilah ledakan. mudah2an ga&lt;br /&gt;tambah ngawurrr yang penting diskusi rame dulu... iya ga?&lt;br /&gt;salam,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hesti : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pak Danang, pak Hartono, pak Lubis dan&lt;br /&gt;semuanya....,&lt;br /&gt;Terimaksih atas masukan yang bapak-bapak berikan, berikut&lt;br /&gt;saya lampirkan kira-kira sketsa dari Scrubber dan Vacum&lt;br /&gt;Eductornya.&lt;br /&gt;Vacum Eductor tidak menggunakan Electical disini dipakai&lt;br /&gt;Condinsate yang di sirkulasi melalui jet eductor (cara&lt;br /&gt;kerjanya mirip Jet eductornya WATER JET PUMP yang&lt;br /&gt;dipasaran).&lt;br /&gt;Saya dapat masukan dari pak Danang tentang ELECTRO&lt;br /&gt;STATIC dan saya mendukung dugaan ini.&lt;br /&gt;Mungkin ada rekan yang lain yang bersedia sharing&lt;br /&gt;bagaimana ini terjadi dan bagaimana mencegahnya.&lt;br /&gt;Salam, K3, Hesti&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Satriyo: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;sumber utama terjadinya ledakan : saya lebih&lt;br /&gt;menyoroti sifat properties material yg dipergunakan pada&lt;br /&gt;selang vacuum eductor yaitu dengan bahan plastic dimana&lt;br /&gt;plastic tsb memilki sifat apabila ada gerakan atau gesekan dgn&lt;br /&gt;benda lain akan menimbulkan energy static (electrostatic)&lt;br /&gt;dalam hal ini energy static tadi sebegai trigger/pemicu&lt;br /&gt;timbulnya ledakan dimana "tetrahedon triangele" sudah ada&lt;br /&gt;dua unsur dasarnya yaitu sisa kondensat dan O2 (krn N2&lt;br /&gt;purging sudah dimatikan) dan kondisi chamber terbuka maka&lt;br /&gt;ada infiltrasi O2 dari luar menuju chamber. Karena level of&lt;br /&gt;explossion dari suatu subtansi hanay perlu terjadi dengan&lt;br /&gt;segitiga api yg cukup simetris dimana subtansi yg mudah&lt;br /&gt;meledak atau terbakar hanya cukup dengan idikasi secala&lt;br /&gt;kulitatif yg dinyatakan sebagai LEL =lower esplosive limit.&lt;br /&gt;demikian sekedar pandangan dan analisa Salam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Baharly Lubis : Dear all, Biar seru dan rame, Memang&lt;br /&gt;betul kata orang bijak preventive action jauh lebih baik&lt;br /&gt;ketimbang corrective action, karena sudah terjadi pasti tidak&lt;br /&gt;akan pernah ada seorang manusiapun yang dapat/mampu&lt;br /&gt;merubahnya, namun pencegahan terhadap suatu kejadian&lt;br /&gt;yang sama-lah yang harus diantisipasi.&lt;br /&gt;Dari kronologis, kejadian saya menggambarkan kira-kira&lt;br /&gt;begini, (just share and not blame each other ok)&lt;br /&gt;Usaha pemisahan Fire Triangle dengan purging N2 ternyata&lt;br /&gt;gagal karena masih terdapat combustible gas didalam scrubber&lt;br /&gt;tank dan keberadaan combustible gas inipun tidak pernah&lt;br /&gt;dilakukan atau belum dilakukan pengecekan menggunakan&lt;br /&gt;combustible gas detector, bila telah dilakukan pengecekan&lt;br /&gt;tentunya di ketahui presentage dari Gas dan O2 yang ada&lt;br /&gt;didalam tanks, untuk mengetahui keberadaan gas didalam&lt;br /&gt;tank harus menggunakan alat bukan secara manual sekalipun&lt;br /&gt;orang tersebut menggunakan Breathing apparatus, karena&lt;br /&gt;tidak tertutup kemungkinan BA tersebut akan membentur&lt;br /&gt;dinding tank atau bagian lain tank yang dapat menimbulkan&lt;br /&gt;spark. Unsafe action and unsafe condition, terjadi disini&lt;br /&gt;dimana pekerja dilarang entry tank, tapi masih memasuki&lt;br /&gt;tank, yang tentunya tanpa entry permit. Perlu di tinjau&lt;br /&gt;kembali apakah SOP untuk pekerjaan ini sudah tepat dan&lt;br /&gt;diketahui oleh para pekerja?&lt;br /&gt;Selanjutnya Saya sependapat dengan Pak Danang, memang&lt;br /&gt;Pak Danang luar biasa, salut untuk K3&lt;br /&gt;Analysis atau risk assessment utk confined space memang&lt;br /&gt;telah dilakukan, namun ada satu hal yang perlu diingat apa&lt;br /&gt;tujuan dari analysis ini, tentunya kita mengidentifikasi jenis&lt;br /&gt;bahaya yang berkemungkinan timbul dan melakukan&lt;br /&gt;antisipasi untuk mencegah kemungkinan bahaya yang akan&lt;br /&gt;timbul tsb (membuat action plan). Saya berpendapat analysis&lt;br /&gt;ini dilakukan hanya memenuhi keperluan documentation&lt;br /&gt;semata, evidence nya adalah, Supervisor miminta agar rubber&lt;br /&gt;hose diganti dengan Selang plastik karena rubber hose akan&lt;br /&gt;dipakai ditempat lain. Ini menunjukan adanya perubahan&lt;br /&gt;secara tiba-tiba, yang tidak termasuk dalam action plan,&lt;br /&gt;bukankah rubber hose sebelumnya sudah ditentukan&lt;br /&gt;peruntukannya yaitu Untuk pengurasan sisa condensate?&lt;br /&gt;Disini telah terjadi underlying cause yaitu Using machinery&lt;br /&gt;and or equipment incorrectly, Lack of knowledge/sill dan&lt;br /&gt;Lack of leadership or supervision.&lt;br /&gt;Kalau menelaah kejadian ini sungguh sangat menyedihkan&lt;br /&gt;memang, hari gene safety masih saja di perkosa sampai-sampai&lt;br /&gt;di anak tirikan yang terusir&lt;br /&gt;Lantas siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap fatal&lt;br /&gt;accident ini tentunya management yang harus bertanggung&lt;br /&gt;jawab, bisa merujuk ke UU No.I 1970, apa tugas dan tanggung&lt;br /&gt;jawabnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Rekan Hesti&lt;br /&gt;Berikut saya ilustrasikan check-list dari Penyebab Terjadinya&lt;br /&gt;Kecelakaan kerja:&lt;br /&gt;1.Tidak patuhnya terhadap peraturan safety atau kurangnya&lt;br /&gt;pengetahuan mengenai safety.&lt;br /&gt;2.Tindakan yang tidak aman dan kondisi tidak aman.&lt;br /&gt;3.Kerja sistim pontong kompas.&lt;br /&gt;4.Salah dalam pengoperasian peralatan atau mesin.&lt;br /&gt;5.Tidak menggunakan peralatan keselamatan (PPE) atau tidak&lt;br /&gt;mengikuti SOP (Standard Operation procedure).&lt;br /&gt;6.Menjalankan peralatan yang rusak.&lt;br /&gt;7.Kondisi pekerja tidak stabil.&lt;br /&gt;8.Bertindak ceroboh dalam bekerja (horseplay).&lt;br /&gt;9.House keeping yang buruk.&lt;br /&gt;10.Pelatihan yang tidak memadai.&lt;br /&gt;11.Membuat alat keselamatan tidak bekerja.&lt;br /&gt;12.Mempergunakan alat-alat kerja yang tidak standard atau&lt;br /&gt;yang sudah tidak layak.&lt;br /&gt;13.Memuat, menempatkan, mengikat/memasang atau&lt;br /&gt;mencampur secara membahayakan.&lt;br /&gt;14.Mengambil posisi yang membahayakan.&lt;br /&gt;15.Bekerja pada atau antara mesin-mesin/alat-alat yang&lt;br /&gt;berputar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pencegahan Kecelakaan Ditempat Kerja&lt;br /&gt;Pencegahan atau pengurangan accidents/incidents dilokasi&lt;br /&gt;kerja adalah dengan menghilangkan penyebab-penyebabnya&lt;br /&gt;melalui cara antara lain:&lt;br /&gt;1.Dukungan dari manajemen terhadap program safety.&lt;br /&gt;2.Safety Induction, Briefing, Orientation and Familiarization.&lt;br /&gt;3.Safety Sign dan posters.&lt;br /&gt;4.Pengawasan secara teknik rekayasa.&lt;br /&gt;5.Pengawasan secara administratif dan praktek operasional.&lt;br /&gt;6.Alat-alat pelindung diri&lt;br /&gt;7.Job Safety Analysis.&lt;br /&gt;8.Pelatihan (Training).&lt;br /&gt;9.Membiasakan diri bekerja dengan tindakan yang&lt;br /&gt;aman/selamat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Rekan semua, berikut ini adalah procedure yang sangat&lt;br /&gt;mendasar yang pernah kami lakukan ketika tank cleaning&lt;br /&gt;pada tank bahan baker kapal laut:&lt;br /&gt;Lakukan Analisa Keselamatan pada pekerjaan ini sedetil&lt;br /&gt;mungkin dan buatkan plan antisipasi terhadap bahaya yang&lt;br /&gt;akan tibul, jelaskan kepada semua pekerja yang terlibat&lt;br /&gt;tentang bahaya-bahaya yang mungkin timbul dan termasuk&lt;br /&gt;plan antisipasinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Buatkan Ijin kerja pada ruang terbatas.&lt;br /&gt;Siapkan Alat Bantu pernapasan dan pastikan alat ini kondisi&lt;br /&gt;baik dan siap di pergunakan.&lt;br /&gt;Pastikan semua jalan masuk dan keluar telah diketahui dan&lt;br /&gt;jaga tetap bebas/aman setiap saat bila akan di pergunakan&lt;br /&gt;Pastikan tanki scruber telah bebas dari gas beracun (bisa&lt;br /&gt;gunakan multi gas detector utk mengetahuinya) pertukaran&lt;br /&gt;udara segar lancer (gunakan blower secara kontiyu)&lt;br /&gt;Konsentrasi gas harus dipantau terus-menerus.&lt;br /&gt;Bila gas sudah free pasang penerangan cukup memadai.untuk&lt;br /&gt;melakukan kegiatan dalam confined space.&lt;br /&gt;Pastikan orang-orang yang melakukan pekerjaan ini sudah&lt;br /&gt;terlatih dan mampu untuk melakukannya, dan peralatan yang&lt;br /&gt;dipakai untuk kerja pada confined space adalah explosion&lt;br /&gt;Proof.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pastikan nama-nama mereka yang melakukan pekerjaan ini&lt;br /&gt;telah di catat sebelum masuk dan ketika mereka keluar&lt;br /&gt;ruangan terbatas, agar mempermudah control terhadap&lt;br /&gt;aktivitas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pastikan peralatan keselamatan yang mereka pergunakan&lt;br /&gt;dalam kondisi baik (PPE para pekerja)&lt;br /&gt;Siapkan penjaga dan regu penolong selama pekerjaan di ruang&lt;br /&gt;terbatas berlangsung dan Beritahukan kepada penjaga dan&lt;br /&gt;regu penolong bila ada hal-hal yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;Jaga komunikasi dengan menggunakan alat komunikasi yang&lt;br /&gt;explosion Proof. antara penjaga dengan pekerja pada ruangan&lt;br /&gt;terbatas dan lakukan pengecekan radio secara teratur guna&lt;br /&gt;memastikan semua aman&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebelum meninggalkan area kerja pastikan semua pekerja&lt;br /&gt;telah keluar dari ruangan terbatas.&lt;br /&gt;Pastikan orang-orang yang tidak terlibat dengan pekerjaan&lt;br /&gt;confined space, mengetahui bahwa ada pekerjaan ini. (good&lt;br /&gt;coordination each other).&lt;br /&gt;Mohon maaf kepanjangan biar jadi rame and tambah seru,&lt;br /&gt;semoga bermanfaat dan sekali lagi mohon maaf kalau ade&lt;br /&gt;saleh-saleh kate.&lt;br /&gt;Thanks all,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Nadheza W:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bapak-Bapak,&lt;br /&gt;Mohon maaf, saya tidak setuju dengan cerita Pak Danang&lt;br /&gt;karena menurut saya tidak mungkin terjadi loncatan listrik&lt;br /&gt;statis dari kondensat yang bergerak di dalam selang plastik ke&lt;br /&gt;selang plastiknya, karena dua duanya adalah isolator (tidak&lt;br /&gt;menghantarkan listrik). Yang paling mungkin adalah&lt;br /&gt;loncatan listrik statis dari selang plastik (tentu mudah diingat&lt;br /&gt;ketika masih kecil diperintahkan guru IPA untuk mengamati&lt;br /&gt;sisir yang bermuatan setelah digosok dengan tangan?) munuju&lt;br /&gt;logam material bejana (yang merupakan konduktor),&lt;br /&gt;pada saat terjadinya corona atau brush inilah terjadi&lt;br /&gt;penyalaan Natural gas yangn masih tersisa.&lt;br /&gt;Menurut standar, loncatan brush atau corona ini dapat&lt;br /&gt;dihindari dengan memasang grounding pada selang plastik&lt;br /&gt;tersebut.Mohon maaf kalau analisa saya salah, saya juga masih&lt;br /&gt;belajar.Hormat Saya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Danang Jatmika: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;maksud saya begini kok&lt;br /&gt;mbak..karena terdapat beda potensial tinggi antara selang&lt;br /&gt;plastik yang bekerja menyedot condensate dengan grounding&lt;br /&gt;pada material vessel sehingga saat terjadi kontak diantara&lt;br /&gt;kedua kutub tersebut menimbulkan corona (petir kecil) yang&lt;br /&gt;memyebabkan explosion. hehe klo masih salah mohon&lt;br /&gt;dikoreksi lagi...&lt;br /&gt;kira2 klo kejadian berikut bisa terjadi corona ga?&lt;br /&gt;1. selang plastik menyedot condensate pada ujungnya diganti&lt;br /&gt;diganti dengan bahan karet.&lt;br /&gt;2. pompa bekerja maksimal tidak menyedot condensate tapi&lt;br /&gt;udara saja dan ujung selang plastik ditempel2in ke material&lt;br /&gt;vessel.&lt;br /&gt;3. klo ngebersihin condensatenya pake scrap dari plastik&lt;br /&gt;secara manual dikumpulin pake wadah bahaya ga?jadi pengen&lt;br /&gt;tahu lebih banyak lagi nehh.. help me.. Salam,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Peris S: &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dear All Rekan Milis,&lt;br /&gt;Pekerjaan Confined Space adalah salah satu Pekerjaan yang&lt;br /&gt;mempunyai Resiko Tinggi yang perlu diwaspadai,&lt;br /&gt;Mungkin masukan dibawah ini dapat membantu rekan-rekan&lt;br /&gt;yang membutuhkannya;&lt;br /&gt;Sebelum memasuki ruang confined space hal-hal yang harus&lt;br /&gt;dilakukan adalah;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ƒ Lakukan isolasi/tutup jalur-jalur masuknya sumber-sumber&lt;br /&gt;bahan bakar ( condensat ) dan pasang Lock out&lt;br /&gt;Tag out.&lt;br /&gt;ƒ Isolation system dengan: Pasang Blank Flank, Pasang&lt;br /&gt;Blind Flank &amp; Double Bleed &amp;amp; Block&lt;br /&gt;ƒ Cleaning : Condensate di sedot dengan vacum,&lt;br /&gt;ƒ Lakukan Purging dengan N-2&lt;br /&gt;ƒ Lakukan Venting&lt;br /&gt;ƒ Open Man Hole&lt;br /&gt;ƒ Lakukan Atmospher testing untuk mengetahui&lt;br /&gt;konsentrasi dari : Oksigen, Gas, H2S, dan gas-gas lain;&lt;br /&gt;pastikan titik konsentrasi dibawah angak LEL atao&lt;br /&gt;Zero Consentrate&lt;br /&gt;ƒ Pasang Exhaust Fan dan Blower&lt;br /&gt;ƒ Bersihkan sisa condensate dengan absorbent&lt;br /&gt;ƒ Setiap orang yang memasuki Confined Space : pastikan&lt;br /&gt;mereka mengerti bahaya didalam CS: Kebakaran,&lt;br /&gt;Keracunan, Kematian,Licin bila perlu lakukan training&lt;br /&gt;kekaryawan sebelum memasuki area CS tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28104430-114766116826529708?l=hse-club-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/114766116826529708/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28104430&amp;postID=114766116826529708&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114766116826529708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114766116826529708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/2006/05/confined-space-accident.html' title='Confined Space Accident'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430.post-114766066844938829</id><published>2006-05-15T09:33:00.000+07:00</published><updated>2006-05-15T09:37:48.453+07:00</updated><title type='text'>Kebisingan dan Nilai Ambang Dengar</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Berdasarkan KepMenKes No. 1405 Tahun 2002, kebisingan diartikan sebagai terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki sehingga mengganggu atau membahayakan kesehatan. Kebisingan merupakan faktor fisika di tempat kerja dimana pemajanan faktor fisika ini dapat mempengaruhi dan atau membahayakan kesehatan. Akibat dari kebisingan ini penyakit akibat kerja berupa kecacatan yang ditimbulkan biasanya ketulian oleh jenis pekerjaan pada suatu industri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Berdasarkan International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (ICD-X) in Occupational Health mempunyai kode H83.3 (noise effects on inner ear).  Tingkat cacat ditentukan dengan mengukur nilai ambang dengar (Hearing Treshold Level, HTL) yaitu angka rata-rata penurunan ambang dengar dalam dB pada frekuensi 500Hz, 1000Hz dan 2000Hz. Penurunan nilai ambang dengar dilakukan pada kedua telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PERHITUNGAN Hearing Treshold Level (HTL)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Cacat pendengaran dibagi berdasarkan cacat monoaural, cacat biaural dan presbiakusis (cacat pendengaran pada orang lanjut usia, lansia). Untuk penentuan cacat pendengaraan monoaural yaitu dengan menentukan nilai ambang dengar pada frekuensi 500Hz, 1000Hz dan 2000Hz. Contohnya dapat dilihat pada tabel berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telinga Kanan&lt;br /&gt;500Hz   = 35dB&lt;br /&gt;1000Hz = 40dB&lt;br /&gt;2000Hz = 60dB&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Telinga Kiri&lt;br /&gt;500Hz  = 40dB&lt;br /&gt;1000Hz = 50dB&lt;br /&gt;2000Hz = 60dB&lt;br /&gt;Jumlah = 135dB&lt;br /&gt;Jumlah = 150dB&lt;br /&gt;Rerata telinga kanan = 45dB&lt;br /&gt;Rerata telinga kiri = 50dB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dari rerata tersebut maka telah didapatkan nilai ambang dengar rata-rata (Average Hearing Treshold Level, HTLrerata)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia muda yaitu usia di bawah 40 tahun maka HTLrerata dikurangi 25dB, sehingga pada telinga kanan yaitu 45dB-25dB = 20dB dan pada telinga kiri 50dB-25dB = 25dB. Dari hasil pengurangan tersebut HTLrerata yang melebihi 25dB dikonversikan kedalam persentase daya dengar dengan mengkalikan 1.5%.&lt;br /&gt;- Telinga kanan : 20 x 1.5% = 30% (penurunan pendengaran monoaural)&lt;br /&gt;- Telinga kiri     : 25 x 1.5% = 37.5% (penurunan pendengaran monoaural)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk perhitungan cacat pendengaran biaural yaitu 5 kali penurunan pendengaran monoaural terkecil ditambah 1 kali penurunan pendengaran monoaural terbesar dibagi 6.&lt;br /&gt;Hasil konservasi kedalam persentase penurunan pendengaran monoaural kemudian dikonversikan kedalam persentase biaural yaitu :&lt;br /&gt;- Telinga kanan (lebih baik) : 30% x 5    = 150%&lt;br /&gt;- Telinga kiri (lebih buruk)   : 37.5% x 1 = 37.5%&lt;br /&gt;- Jumlah (150% + 37.5%)                     = 187.5%&lt;br /&gt;Jumlah tersebut di atas kemudian dibagi 6, maka didapatkan nilai penurunan pendengaran biaural 31.25%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi nilai presentase penurunan pendengaran biaural total yaitu 31.25% x 40% = 12.5%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PRESBIAKUSIS&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Presbiakusis yaitu kenaikan ambang dengar 0.5dB setiap tahun dihitung dari usia 40 tahun. Apabila seorang pekerja berumur 45 tahun maka kenaikan ambang dengar karena faktor usia ialah (45tahun – 40tahun) x 0.5dB = 2.5dB.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Dari kenaikan ambang dengar tersebut di atas HTLrerata dikurangi 25dB dan dikurangi lagi dengan ambang dengar oleh prebiakusis (nilai di atas 2.5dB), maka :&lt;br /&gt;- Telinga kanan : 45 – 25 – 2.5 = 17.5dB&lt;br /&gt;- Telinga kiri     : 50 – 25 – 2.5 = 22.5dB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari nilai tersebut di atas maka konversikan HTLrerata ke dalam presentase penurunan daya dengar dengan mengkalikan 1.5%, sehingga :&lt;br /&gt;- Telinga kanan : 17.5 x 1.5% = 26.25% (penurunan pendengaran monoaural)&lt;br /&gt;- Telinga kiri     : 22.5 x 1.5% = 33.75% (penurunan pendengaran monoaural)&lt;br /&gt;Sehingga penurunan pendengaran biaural dapat diketahui yaitu :&lt;br /&gt;- Telinga kanan (lebih baik) = 26.25% x 5 = 131.25%&lt;br /&gt;- Telinga kiri (lebih buruk)   = 33.75% x 1 = 33.75%&lt;br /&gt;- Jumlah (131.25% = 33.75%)                 = 165%&lt;br /&gt;-Jumlah tersebut kemudian dibagi 6, maka didapatkan 27.5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi nilai penurunan pendengaran biaural total yaitu 27.5% x 40% = 11%.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Oleh: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Yogi Sasongko. Occupational Health Section Head, Safety &amp; Industrial Health Department. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;PT Freeport Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Arif Susanto. Environmental &amp; Health, Public Health Department. PT Freeport Indonesia&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28104430-114766066844938829?l=hse-club-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/114766066844938829/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28104430&amp;postID=114766066844938829&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114766066844938829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114766066844938829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/2006/05/kebisingan-dan-nilai-ambang-dengar.html' title='Kebisingan dan Nilai Ambang Dengar'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430.post-114766032525393210</id><published>2006-05-15T09:27:00.000+07:00</published><updated>2006-05-15T09:33:16.520+07:00</updated><title type='text'>Air Gap Monitoring Project</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Abstract&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Possibility of An Air Blast occurrence was considered at Freeport’s Block Cave Mines. It was considered important to introduce and conduct Air Gap Monitoring Project as a safety precaution. The aim of this project was to provide means of measuring the air gap between the cave back and the top of existing muck pile through open drill holes. The project was successful to determine air gap distance, dilation zone, and swell factor of muck pile inside the cave. Risk minimization program was arranged to manage the air blast risks. Draw rate reduction, geotechnical monitoring, procedures development, and areas isolation were the actions to anticipate and minimize the risks. This paper elaborates air gap measurements and following actions to manage the risks and the impacts of air blast.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Introduction&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;The Deep Ore Zone Mine (DOZ) is the main underground block cave mine at PT Freeport Indonesia (PTFI). It is located about 300 meters below the Intermediate Ore Zone (IOZ) mine and about 1200 meters below the surface (fig.1). The DOZ Mine currently produce 35 kilo tons of copper and gold ore per day. Since the first production at year 2000 till the end of April 2003, the mine has already produced 13 million tons ore grading 1.73 percent copper and 0.89 ppm gold.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Block Caving Method is the lowest cost underground mining method but it has relatively high risks and a high-up front capital and development cost (Heslop, 2000). Besides that, it has some operating risks which can be divided into:&lt;br /&gt;a. Operational Hazards&lt;br /&gt;Rock bursts, air blast, mud rushes and water and slurry inrushes.&lt;br /&gt;b. Design Risks&lt;br /&gt;Those risks that have an economic impact and are the result of incorrect assessments of the ground conditions or effect of stress, etc based largely on geotechnical data collected years before.&lt;br /&gt;c. Draw Risks&lt;br /&gt;Those risks that have an impact on the current and future ore and grades that will be recovered and are the result of incorrect assessment of the issues that influence draw.&lt;br /&gt;d. Automated Equipment Risks&lt;br /&gt;Risk arising from an over-reliance or advanced technology to achieve critical levels of performance from LHD and Drills.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;One of operational hazards is an air blast. The Air Blast has become an issue in Freeport’s Block Cave Mines following the incident which happened at North Parkes Mine (Australia) in November 1999. Cave back suddenly collapsed and created air blast. Learning from that incident, it was considered important to introduce and conduct An Air Gap Monitoring Project in the Deep Ore Zone Mine as a safety precaution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Air Gap Monitoring&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Definition&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Air Blast is a disturbance in underground workings accompanied by a strong rush of air. The rush of air, at times explosive in force, is caused by the ejection of air from large underground openings, the sudden fall of large masses of rock, the collapse of pillars, slippage along a fault, or a strong current of air pushed outward from the source of an explosion (American Geological&lt;br /&gt;Institute, 1996).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Air Gap Project&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;The aim of this project was to provide means of measuring the air gap distance between the cave back and the top of existing muck pile. The project included:&lt;br /&gt;a. Development of 60 meters excavation/drift to allow vertical or sub-vertical holes to the DOZ Cave Back.&lt;br /&gt;b. Drill four holes (totally 400 meters in length) for Time Domain Reflectometry (TDR) Installation. This monitoring is adopted from telecommunication technology. This device is used for identifying the location of a fault in a cable. When the cave or crack intersects the cable, the cable will form an open circuit and the reading unit will show the distance from collar to the intersected location.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;c. Drilling at the air gap drift to get open holes to the cave for allowing direct measurement of Air Gap (fig.2). During drilling activities, monitoring both visual and TDR monitoring were conducted every hour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The hardest part of this project was to get a directly open hole or a breakthrough hole into the cave. In the immediate vicinity of the cave, the rock mass fractures forming, so called a dilation zone. The drill holes usually get stuck while enter the dilation zone. Besides the water can not flowing well, the rock or ground around the dilation zone is unstable and ready to collapse as cave material. After struggling with collapsed holes, the project was successful to measure the air gap distance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Project Results&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;The project was successful to get breakthrough hole and measure the air gap distance as well.&lt;br /&gt;The results of this project are:&lt;br /&gt;a. Air Gap Distance&lt;br /&gt;The measurement showed that the distance between the cave back to the top of the DOZ muck pile was approximately 55 meters. In the other word, there is 240 (fig.2) meters of muck between air gap and extraction level.&lt;br /&gt;b. Dilation Zone&lt;br /&gt;From several holes which drill into the cave indicated that dilation or crack zone around the cave is 20-30 meters.&lt;br /&gt;c. Swell Factor&lt;br /&gt;This measurement allowed to calculate swell factor of muck pile to be 24%.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;The Swell Factor calculation from the Air Gap Measurement (Rachmad, 2002):&lt;br /&gt;Assumption : Density of the rock 2.7 ton/m3&lt;br /&gt;Material pulled vertically and independently along the column&lt;br /&gt;Data : Air Gap Distance 50 meters&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Height Cave from Extraction 288 meters&lt;br /&gt;Height of Muck Pile 238 meters&lt;br /&gt;Tons Pulled (April 15th,02) 75,361 tons&lt;br /&gt;Area of Draw Point 287 m2&lt;br /&gt;Calculation :&lt;br /&gt;Tonnage Cave = 288 m x 287m2 x 2.7 ton/m3 = 223,171 ton&lt;br /&gt;Tonnage Cave = Tonnage remaining in muck pile + Tonnage Drawn&lt;br /&gt;Tonnage remaining in muck pile = Tonnage Cave – Tonnage Drawn = 223,171 – 75,361&lt;br /&gt;= 147,810 tons&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Volume remaining in muck pile = 147,810 ton/(2.7ton/m3)&lt;br /&gt;= 54,744 m3&lt;br /&gt;Volume remaining x % Swell)/Area of Base= Height of Muck Pile&lt;br /&gt;% Swell = (238 m x 287m2)/54,744 m3 = 124%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Swell Factor = % Swell-1 = 124%-100% = 24%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Risk Minimisation&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;The project showed that the muck pile height is about 240-250 meters from the DOZ Extraction Level (Widijanto, 2002). For comparison, North Parkes Mine adopted minimum of 60 meters of caved material above extraction level (North Parkes, 1999). Based on that result the risk of air blast happen at the DOZ Mine could be neglected because the muck pile can absorb the energy or pressure. For the Intermediate Ore Zone (IOZ) Mine which intersected with the DOZ Air Gap Volume (volume between cave shape and muck shape – fig.2), the risk of that is managed by several actions and monitoring (Widijanto, Rachmad, &amp;amp; Nicholas). Some actions following this project:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Draw Rate&lt;br /&gt;The concept of a draw rate implies that a rate of the cave collapse is equal or faster than the draw rate (production rate). The concept requires that collapsed cave has always greater volume than pulled material from the draw points. It means the air gap between the cave back and the top of muck is maintained at a current situation or getting smaller. Further more, the risk of an air blast could be minimized. Draw rate reduction at panels with a significant cave height minimizes the air gap distance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Monitorings&lt;br /&gt;Regular TDR monitoring around the cave can give early warning if there is anomaly of cave progress. Besides that, installing a television camera helps to identify the actual condition at the edge of air gap drift which the nearest point of the existing drift to the cave.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;3. Procedures&lt;br /&gt;Procedure was developed to ensure safety for all activities, especially for the area which was close to the DOZ Cave propagation. Distance between the closest excavation or drift to the DOZ cave was used to determine what actions should be taken. Besides that, the procedure stipulated the critical area should be inspected regularly to ensure safety of people who works on the same level or elevation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Isolations&lt;br /&gt;The areas which were considered under potential risk from airblast were identified and isolated. The isolation prevented people to enter or carrying out their activities at that area, except those who had permission from the area owner and underground geotechnical section. The other purpose of isolation by building bulkheads is to direct air pressure to the surface -not flowing to the underground working areas-. Concrete Bulkheads at the north and south of East Exhaust Drift which had the closest distance to the DOZ Cave, Pneumatic Doors at Undercut Level, and Shotcreted Bulkheads were built to isolate some areas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;References&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;1. Heslop T. G., 2000.Block Caving – Controllable Risks and Fatal Flaws. In Proceedings of Mass Min 2000 Conference, Brisbane, 29 Oct-2 Nov 2000, 437-454.&lt;br /&gt;2. American Geological Institute, 1996. Dictionary of Mining, Mineral, and Related Terms. American Geological Institute in cooperation with The Society for Mining, Metallurgy, and Exploration Inc., Second Edition.&lt;br /&gt;3. North Parkes, 2000. Findings and Recommendations of Airblast Incident. In Internal Report. North Parkes&lt;br /&gt;Mine.&lt;br /&gt;4. Widijanto E., 2002. Airgap Monitoring Result. In Internal Report. PT Freeport Indonesia.&lt;br /&gt;5. Rachmad L., 2002. Airgap Calculation. In Internal Report. PT Freeport Indonesia.&lt;br /&gt;6. Widijanto E., Rachmad L., Nicholas D., 2002. Estimate When and Where DOZ Cave will Intersect IOZ/GBT and The Surface. In Internal Report. PT Freeport Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;By:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Eman Widijanto, Superintendant Geotechnical Underground, Geotechnical Underground Department, PT Freeport Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Publication by.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;HSE Club Indonesia Journal 1st Edition, 2006.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28104430-114766032525393210?l=hse-club-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/114766032525393210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28104430&amp;postID=114766032525393210&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114766032525393210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114766032525393210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/2006/05/air-gap-monitoring-project.html' title='Air Gap Monitoring Project'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430.post-114766006530007682</id><published>2006-05-15T09:21:00.000+07:00</published><updated>2006-05-15T09:27:45.760+07:00</updated><title type='text'>The Underground Coal Mine Blast Accident &amp; How To Prevent It</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;INTRODUCTION&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;The world primary energy consumption is getting high from year to year.  In this year (2005), the world primary energy consumption is predicted around 11,063 million TOE, in which around 21,8% of them (2,409 million TOE) is supplied by coal.  In the next 2010, the world consumption is predicted will jump to 12,413 million TOE, in which 21,3% of them (2.638 million TOE) will be supplied by coal (EIA, International Energy Outlook, 2002&lt;br /&gt;).  Still based on the information from EIA, in the year of 2002, especially for Asia region, the coal consumption of China People Republic will increase from year to year, including for their preparation as the Olympic host in the next 2008.  The detail data about the world primary energy consumption is attached on Table-1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The primary energy consumption in Asia region, as a big population region, is getting high from year to year.  China, as the biggest population country in this region, is predicted will use coal as it’s main energy.  In 1999, China consummated around 1,595.5 million TOE.  In the next 2010 and 2020, China as the biggest country in Asia region will consummate around 2,757.2 and 4,193.1 million TOE of the world primary energy.  Around 60% of them will be supplied by coal energy which is produced by the country and by another countries in the region, including Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mainly, the coal can be mined through two different ways of mining; the Surface Coal Mining (SCM) and the Underground Coal Mining (UCM).  Currently, the SCM that has been implemented for hundred of years, is getting un-popular.  It is in relation to the improvement of people concern to the environmental protection issues.  The UCM is claimed as the best method of mining in relation to the environmental protection issues.  But unfortunately, this mining method has a very high risk to employees’ accident.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UCM methods have been introduced many years ago in Indonesia but this method of mining is not as popular as Surface Coal Mining (SCM). PT. Arutmin Indonesia, as one of the three biggest coal mining company in Indonesia, has four surface coal mining sites, i.e. Satui, Asam-Asam, Senakin and Batulicin Coal Mine Sites.  UCM has been newly introduced at Satui Coal Mine site – in South Kalimantan and is the only one operating in the region. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SCM methods are developed by digging the overburden materials and taking out the coal from the earth.  These type of mining are limited by an economical “Stripping Ratio”, such as 5:1.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;These mining methods can potentially have serious impacts to the environment surrounding the mining  area. Compared to the SCM Method, UCM Methods have minimum impact to the environment.  But unfortunately, this mining method has a higher risk or impact for people who working at the UCM.  Until now, a lot of people are still killed in the UCM area.  For example, on 26 April 1942, 1,527 employees are killed in Honkeikou–China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CHARACTERISTICS OF UNDERGROUND COAL MINING&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Compared to the SCM methods, the UCM methods have some characteristics or limitation as follows:&lt;br /&gt;1.  As their name, the UCM methods are developed in the underground area.  In some cases, these type of mining methods can be developed for thousands of meters into the earth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  They have a limitation in free air circulation, especially for oxygen gas circulation required for employees’ breathing who are working in the underground panel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  They have a limitation in lighting, causing almost all tunnels and work panels are extremely dark.  This condition can impact the employees’ sight who are working there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Limitation in working area for employees’ and equipment movement.  This condition has potential problem for increasing of employees’ hit, pinched and scratch accidents.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  The UCM methods are affected by the earth warming effect.  More deeper more warmer.  This effect is strongly felt by the employees when the underground ventilation system is not working properly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. They are also affected by the earth’ tension effect.  That’s why the underground tunnels should be maintained regularly to minimize the impact of the effect to the tunnels.  Otherwise the tunnels will be narrower.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. These type of mining methods also have a risk of roof falling.  If the tunnel and/or the working panel collapse, it could kill employees working in the area. This accident has potential to stop air circulation to other working panels.  We can imagine when people working without fresh air (oxygen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. The UCM methods also have a high risk of water flooding.  Underground water from around can enter any empty spaces of the underground coal mining area.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Some types of hazardous gases can also enter and be able trapped in the UCM spaces. The hazardous gases will decrease the oxygen availability and will impact to the employees’ health and/or safety.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Last but not least, the UCM methods have a high risk on the circulation of coal and/or stone dust.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ACCIDENT RISKS IN UNDERGROUND COAL MINING&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Some characteristics of the UCM have potential risk to cause accidents and/or health impacts to their employees.  Some kinds of underground accident risks that can occur at an UCM are: 　a.  Mine blast accident risk,           &lt;br /&gt;b.  Mine fire accident risk,&lt;br /&gt;c.  Hazardous gas circulation risk;&lt;br /&gt;d. Coal and/or stone dust circulation risk; &lt;br /&gt;e.  Mine flood accident risk;&lt;br /&gt;f.   Mine fall / collapse accident risk; and&lt;br /&gt;g.  Other general accident risks, such as pinched, scratched, hit, etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This paper will only discuss about the underground mine blast accident risk.  Until now, it is the highest accident risk at the UCM.  This risk has great concern and challenges to be managed properly to ensure a safer UCM area. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;UNDERGROUND COAL MINE BLAST ACCIDENT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Methane gas and/or coal dust in underground coal mining has potential risk causing blasting accident at the underground coal mining.  Methane gas has some characteristics, such as:&lt;br /&gt;a.        Has no color,&lt;br /&gt;b.        Has no taste,&lt;br /&gt;c.        Has no smell, and&lt;br /&gt;d.        Toxic.&lt;br /&gt;This gas has type weight = around 0.56.  It means the weight is lighter than air.  That is why the gas is usually trapped on the ceiling of  the UCM, especially at the curve areas.  This gas has possibility to blast at concentration of 5％ ～ 15％. At concentration of 9.5%, this gas is easily to blast. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Coal dust, which easily to be found at coal transportation facility areas in panel and tunnel areas, has specific characteristic; i.e. easily to fire and blast. The coal dust which produced at work panel areas, at coal seam tunnels and at UCM transportation facilities, has been proofed as a factor causing UCM blasting accident that have killed a lot of the UCM employees around the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the next table, we can see how many employees had been killed by the UCM blast accident around the world, especially those which have killed more than 300 employees in each accident.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Table 1.&lt;br /&gt;Fatality in Underground Coal Mining around the World&lt;br /&gt;(more than 300 victims)&lt;br /&gt;COUNTRY&lt;br /&gt;COMPANY&lt;br /&gt;DATE OF ACC.&lt;br /&gt;TOTAL FATALITY&lt;br /&gt;British&lt;br /&gt;Ox&lt;br /&gt;December 12, 1886&lt;br /&gt;361&lt;br /&gt;French&lt;br /&gt;Coullier&lt;br /&gt;March 10, 1906&lt;br /&gt;1,099&lt;br /&gt;Japan&lt;br /&gt;Takashima&lt;br /&gt;March 28, 1906&lt;br /&gt;307&lt;br /&gt;Japan&lt;br /&gt;Toyokoku&lt;br /&gt;July 20, 1907&lt;br /&gt;365&lt;br /&gt;British&lt;br /&gt;Monoger&lt;br /&gt;December 6, 1907&lt;br /&gt;361&lt;br /&gt;Germany&lt;br /&gt;Lad Bold&lt;br /&gt;November 12, 1908&lt;br /&gt;360&lt;br /&gt;British&lt;br /&gt;Pretoria&lt;br /&gt;December 21, 1910&lt;br /&gt;344&lt;br /&gt;British&lt;br /&gt;Senghenice&lt;br /&gt;December 18, 1913&lt;br /&gt;439&lt;br /&gt;Japan&lt;br /&gt;Wakanabe&lt;br /&gt;November 28, 1914&lt;br /&gt;423&lt;br /&gt;Japan&lt;br /&gt;Usui&lt;br /&gt;December 1, 1914&lt;br /&gt;422&lt;br /&gt;Japan&lt;br /&gt;Houjou&lt;br /&gt;December 25, 1914&lt;br /&gt;687&lt;br /&gt;China&lt;br /&gt;Bujun Daisan Kou&lt;br /&gt;January 11, 1917&lt;br /&gt;917&lt;br /&gt;Japan&lt;br /&gt;Onoura&lt;br /&gt;December 21, 1917&lt;br /&gt;369&lt;br /&gt;China&lt;br /&gt;Kai&lt;br /&gt;October 14, 1920&lt;br /&gt;431&lt;br /&gt;China&lt;br /&gt;Sei&lt;br /&gt;May 22, 1940&lt;br /&gt;341&lt;br /&gt;China&lt;br /&gt;Honkeikou&lt;br /&gt;April 26, 1942&lt;br /&gt;1,527&lt;br /&gt;China&lt;br /&gt;Seian Taishin Dai Ikkou&lt;br /&gt;October 11, 1942&lt;br /&gt;310&lt;br /&gt;Germany&lt;br /&gt;Luizendal&lt;br /&gt;N/A&lt;br /&gt;300&lt;br /&gt;Japan&lt;br /&gt;Mike&lt;br /&gt;November 9, 1963&lt;br /&gt;453&lt;br /&gt;Source: “Underground Mining &amp; Safety Technology” training handbook  released by Ikeshima – Nagasaki Training Center – Japan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HOW TO PREVENT UNDERGROUND COAL MINE BLAST ACCIDENT&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;As previously concerned; by knowing the characteristics and the accident risks of underground coal mining, we can use this as a challenge to improve underground safety performance by reducing any kinds of accidents in these areas, including UCM blast accidents.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The “Fire Triangle” concept is typically used to prevent UCM blast accidents. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Based on the above concept, we can prevent UCM blast accidents by:&lt;br /&gt;a. Monitoring and handling of fire flame / ignition;&lt;br /&gt;b. Monitoring and handling of explosive / flammable materials (such as methane gas, coal dust, etc); and&lt;br /&gt;c.  Managing oxygen gas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monitoring &amp; handling fire flame / ignition&lt;br /&gt;There are some kinds of fire flame/ignition sources in underground coal mine areas, such as:&lt;br /&gt;a. Blasting activities,                               &lt;br /&gt;b.        Electrical equipment / installation,  &lt;br /&gt;c.        Safety / head lamps,        &lt;br /&gt;d.        Cigarettes / matches,&lt;br /&gt;e.        Mine fire / self combustion, and&lt;br /&gt;f.         Other sources. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Based on the flame / ignition sources, we can organize some activities to prevent the UCM blast accidents, as follows:&lt;br /&gt;Blasting activities&lt;br /&gt;Implement good ucm blasting permit&lt;br /&gt;Electrical equipment/installation&lt;br /&gt;Use flame-proof electrical equipment&lt;br /&gt;Safety / head lamps&lt;br /&gt;Conduct pre-start checking prior to use the lamps&lt;br /&gt;Cigarettes /matches                         &lt;br /&gt;Organize personal check to employees and/or guests who want to enter the underground coal mine&lt;br /&gt;Mine fir or self combustion&lt;br /&gt;Install permanent CO gas detector&lt;br /&gt;Install automatic fire fighting equipment&lt;br /&gt;Other sources&lt;br /&gt;Install “No Flame / Ignition” sign&lt;br /&gt;Organize Safe Behavior Observation&lt;br /&gt;Install “Centralized Monitoring System”&lt;br /&gt;Install “Water Pockets” in some designated tunnels.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monitoring &amp; handling of explosive materials&lt;br /&gt;Explosive materials in UCM could be:&lt;br /&gt;a.  Methane gas (CH4)&lt;br /&gt;b.  Coal dust.&lt;br /&gt;In relation to monitoring and handling of the explosive materials, some efforts to prevent UCM blast accidents are as follows:&lt;br /&gt;a.    Install methane gas detector&lt;br /&gt;b.    Drain the trapped methane gas&lt;br /&gt;c.    Spraying road header or drum cutter (equipment) with water&lt;br /&gt;d.    Spraying of UCM tunnels with limestone dust&lt;br /&gt;e.    Concreting of UCM tunnels&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;a.    Regular maintenance/ cleaning areas under conveyors and other hazardous areas&lt;br /&gt;b.    Install CO gas detector and monitoring system.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Managing oxygen gas&lt;br /&gt;Some efforts to prevent the UCM blast accidents could be conducted by managing the oxygen gas circulation in the underground coal mine, such as follows:&lt;br /&gt;a.    Increase the oxygen gas supply to where the methane gas is trapped to decrease the methane gas concentration in that area under it’s explosion point.  The explosion point of methane gas is between 5 to 15%.  Install “wind doors” and/or “wind bridges” to increase or decrease the oxygen supply to designated areas.&lt;br /&gt;b.   Stop the oxygen gas supply to where the explosion has happened, by blocking the blasted / fired areas with concrete blocks.  As explained in the “Fire Triangle Concept”, stopping the oxygen gas supply will stop the coal fire / blast.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CONCLUSION&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Based on the previous explanations, there are some conclusions that can be drawn:&lt;br /&gt;1. The world energy consumption for coal is getting higher from year to year.&lt;br /&gt;2. Coal can be mined through surface or underground coal mining methods.&lt;br /&gt;3. The underground coal mining method has some limitations or characteristics.&lt;br /&gt;4. One of the characteristics is the high accident risk of UCM blast.&lt;br /&gt;5. UCM blast accident has occurred hundreds of years ago, but until now the accident risk is still high.&lt;br /&gt;6. The principle concept to prevent UCM blast accident is using the “Fire Triangle” concept.&lt;br /&gt;7. Three items of concern with on the “Fire Triangle” concept are; Flame/Ignition, fuel and oxygen.&lt;br /&gt;8. Managing the three items properly will prevent the UCM blast accidents.  This type of accident has made thousands of the UCM employees dye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By:&lt;br /&gt;Ir. Eddy Suprianto, MAppSc. PT Arutmin Indonesia as Safety, Health &amp; Environmental (SHE) Superintendent.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Publication:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;HSE Club Indonesia Jurnal 1st Edition, 2006.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28104430-114766006530007682?l=hse-club-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/114766006530007682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28104430&amp;postID=114766006530007682&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114766006530007682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114766006530007682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/2006/05/underground-coal-mine-blast-accident.html' title='The Underground Coal Mine Blast Accident &amp; How To Prevent It'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430.post-114765074404590559</id><published>2006-05-15T06:47:00.000+07:00</published><updated>2007-01-28T12:12:55.163+07:00</updated><title type='text'>Kebisingan dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan dan Lingkungan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;PENDAHULUAN &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki, misalnya yang merintangi terdengarnya suara-suara, musik dan sebagainya atau yang menyebabkan rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup. (JIS Z 8106,IEC60050-801 kosakata elektro-teknik Internasional Bab 801:Akustikal dan elektroakustikal). Kebisingan yaitu bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (KepMenLH No.48 Tahun 1996) atau semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (KepMenNaker No.51 Tahun 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara pencemaran lingkungan yang lain, pencemaran/polusi kebisingan dianggap istimewa dalam hal : (1) penilaian pribadi dan subjektif sangat menentukan untuk mengenali suara sebagai pencemaran kebisingan atau tidak, (2) kerusakannya setempat dan sporadis dibandingkan dengan pencemaran udara dan pencemaran air dan bising pesawat merupakan pengecualian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;UNSUR SUARA &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apabila bel dibunyikan, seseorang menangkap ‘nyaring’, ‘tinggi’ dan ‘nada’ suara yang dipancarkan. Ini merupakan suatu tolak ukur yang menyatakan mutu sensorial dari suara dan dikenal sebagai ‘tiga unsur suara’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran fisik ‘kenyaringan’, ada amplitudo dan tingkat tekanan suara. Untuk ‘tinggi’ suara adalah frekuensi dan ‘nada’ adalah sejumlah besar ukuran fisik. Kecenderungan saat ini adalah menggabungkan segala yang merupakan sifat dari suara, termasuk tingginya, nyaringnya dan distribusi spectral sebagai ‘nada’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FREKUENSI DAN PANJANG GELOMBANG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Suatu gelombang suara memancar dengan kecepatan suara dengan gerakan seperti gelombang. Jarak antara dua titik geografis (yaitu dua titik di antara mana tekanan suara maksimum dari suatu suara murni dihasilkan) yang dipisahkan hanya oleh satu periode dan yang menunjukkan tekanan suara yang sama dinamakan ‘gelombang suara’, yang dinyatakan sebagai l(m). Apabila tekanan suara pada titik sembarangan berubah secara periodik, jumlah berapa kali di mana naik-turunnya periodik ini berulang dalam satu detik dinamakan ‘frekuensi’, yang dinyatakan sebagai f(Hertz/Hz, lihat gambar gelombang sinusoidal). Suara-suara ber-frekuensi tinggi adalah suara tinggi, dan yang ber-frekuensi rendah adalah suara rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara kecepatan suara c (m/s), gelombang l dan frekuensi f dinyatakan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C = f x l&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjang gelombang dari suara yang dapat didengar adalah beberapa sentimeter dan sekitar 20m. Kebanyakan dari objek di lingkungan kita ada dalam lingkup ini. Mutu suara dipengaruhi oleh kasarnya permukaan-permukaan yang memantulkan suara, tingginya pagar-pagar dan faktor-faktor lainnya, akan berbeda sebagai perbandingan dari panjang gelombang terhadap dimensi objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gambar garis bentuk kenyaringan dari tes (hearing) psikiatris ini bahwa batas perbedaan suara yang bisa terdengar oleh rata-rata orang adalah 20-20.000Hz tetapi bisa terdengarnya tergantung pada frekuensi. Kurva menggunakan 1000Hz dan 40dB sebagai referensi untuk suara murni dan mem-plot suara referensi ini dengan tingkat-tingkat yang bisa terdengar dari kenyaringan yang sama pada berbagai frekuensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TIPE-TIPE KEBISINGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kategori kebisingan lingkungan dapat dilihat seperti dalam tabel berikut : Jumlah kebisingan Semua kebisingan di suatu tempat tertentu dan suatu waktu tertentu Kebisingan spesifik Kebisingan di antara jumlah kebisingan yang dapat dengan jelas dibedakan untuk alasan-alasan akustik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali sumber kebisingan dapat diidentifikasikan Kebisingan residual Kebisingan yang tertinggal sesudah penghapusan seluruh kebisingan spesifik dari jumlah kebisingan di suatu tempat tertentu dan suatu waktu tertentu Kebisingan latar belakang Semua kebisingan lainnya ketika memusatkan perhatian pada suatu kebisingan tertentu. Penting untuk membedakan antara kebisingan residual dengan kebisingan latar belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DECIBELS &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Decibel (dB) adalah ukuran energi bunyi atau kuantitas yang dipergunakan sebagai unit-unit tingkat tekanan suara berbobot A. Yang dilakukan untuk mensederhanakan plot-plot multipel seperti pada gambar dan untuk secara kira-kira menyebandingkan kuantitas logaritmik dari stimulus untuk stimulus akustik yang diterima telinga manusia dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menilai kebisingan diperlukan untuk menghitung tambahnya atau kurangnya tingkat tekanan suara berbobot A rata-ratanya dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGARUH DAN AKIBAT DARI KEBISINGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pengaruh suara banyak kaitannya dengan faktor-faktor psikologis dan emosional, ada kasus-kasus dimana akibat-akibat serius seperti kehilangan pendengaran terjadi karena tingginya tingkat kenyaringan suara pada tingkat tekanan suara berbobot A dan karena lamanya telinga terpajan terhadap kebisingan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut jenis dari akibat kebisingan :&lt;br /&gt;Akibat lahiriah&lt;br /&gt;Kehilangan pendengaran&lt;br /&gt;Perubahan ambang batas sementara akibat kebisingan,&lt;br /&gt;perubahan ambang batas permanen akibat kebisingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat fisiologis&lt;br /&gt;Rasa tidak nyaman atau stress meningkat, tekanan darah meningkat, sakit kepala, bunyi dering&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat psikologis&lt;br /&gt;Gangguan emosional&lt;br /&gt;Kejengkelan, kebingungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan gaya hidup&lt;br /&gt;Gangguan tidur atau istirahat, hilang konsentrasi waktu bekerja, membaca dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan pendengaran&lt;br /&gt;Merintangi kemampuan mendengarkan TV, radio, percakapan, telpon dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAKU TINGKAT KEBISINGAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (KepMenLH No.48 Tahun 1996). Agar kebisingan tidak mengganggu kesehatan atau membahayakan perlu diambil tindakan seperti penggunaan peredam pada sumber bising, penyekatan, pemindahan, pemeliharaan, penanaman pohon, pembuatan bukit buatan ataupun pengaturan tata letak ruang dan penggunaan alat pelindung diri sehingga kebisingan tidak mengganggu kesehatan atau membahayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Arif Susanto. Environmental Moderator HSE Club Indonesia.&lt;br /&gt;Dipublikasikan pada HSE Club Indonesia Jurnal Edisi 01/2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28104430-114765074404590559?l=hse-club-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/114765074404590559/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28104430&amp;postID=114765074404590559&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114765074404590559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114765074404590559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/2006/05/kebisingan-dan-pengaruhnya-terhadap.html' title='Kebisingan dan Pengaruhnya terhadap Kesehatan dan Lingkungan'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430.post-114765046522729163</id><published>2006-05-15T06:43:00.000+07:00</published><updated>2007-01-28T08:58:32.786+07:00</updated><title type='text'>Bahaya Amiku Di Kantor</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7513/2971/1600/962120/water.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/7513/2971/320/411698/water.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Suplai air minum di kantor-kantor sering berasal dari air minum kemasan ulang (amiku) yang dikenal dengan sebutan air isi ulang. Bergalon-galon amiku diserap oleh kantor setiap hari, khususnya kantor-kantor di kota besar. Memang ada juga yang berlangganan amik (air minum kemasan) dari berbagai merek. Untuk yang satu ini, ancaman bencana tetap masih ada dan bisa diajukan ke pengadilan karena jelas siapa produsen dan di mana keberadaannya. Apalagi perusahaan amik tersebut termasuk perusahaan besar kaya raya dan beberapa di antaranya menjadi bagian dari korporasi air multinasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun masalah akan muncul jika terjadi kasus keracunan dari amiku yang umumnya pengusaha kecil, bermodal di bawah 30 juta rupiah. Secara teknis, unit pengolah amiku tidaklah selengkap unit yang diterapkan amik. Tapi tidak berarti semua perusahaan amik sudah menerapkan unit pengolah yang canggih dan lengkap. Bagaimanapun, unit yang diterapkannya selalu mengacu pada sumber air yang digunakan atau bergantung pada kualitasnya. Ada “pabrik” amik yang betul-betul bagus pengolahannya tapi ada juga yang “biasa-biasa” saja. Belum tentu satu perusahaan amik seragam kualitas pengolahannya di semua unit pembotolannya di seluruh Indonesia. Yang di Jawa Barat belum tentu setara kualitas pengolahannya dengan yang di Jawa Timur, di Kalimantan, atau di Bali misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya sumber air amik adalah mata air yang berada di dekat hutan atau di gunung-gunung sehingga diasumsikan bebas polusi. Hanya saja harus diingat bahwa polusi itu tak hanya berasal dari manusia (antropogenik) tapi bisa juga dari alam. Air dari mata air belum tentu bebas polusi jika berasal dari formasi geologi yang kaya mineral berbahaya. Andaipun tidak berasal dari formasi batuan yang berbahaya, kandungan kalsium, magnesium, besi dan mangan pun boleh jadi jauh melampaui batas maksimum yang disyaratkan untuk air minum. Ini pun bisa menjadi halangan dan memperburuk kualitas amik sehingga sangat dipengaruhi oleh unit pengolah apa saja yang digunakan untuk mengolahnya. Demikian pula jika airnya berasal dari air gambut atau sedikit banyak mengandung asam-asam humat. Amiku juga demikian. Banyak depot amiku membeli air dari pemerintah daerah atau yang sering terjadi, pengusaha amiku membeli air ke lurah atau kepala desa setempat. Uangnya tidak masuk ke pemerintah daerah (ke APBD) tapi diambil dan dibagi-bagi oleh aparat desa dan keamanan (TNI, polisi dan pegawai di Dinas Sumber Daya Air atau dinas lainnya). Katakanlah semacam kongkalikong di antara mereka. Selain mata air, amiku juga ada yang memanfaatkan air PDAM dan air tanah dalam. Bahkan air sumur dangkal sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, dari sisi teknologi pengolahan air, semua air tersebut boleh-boleh saja digunakan sebagai sumber air bagi amiku. Yang menjadi masalah sebetulnya adalah unit operasi dan prosesnya. Inilah yang terpenting dan inilah yang potensial mengundang bahaya di kantor-kantor dan tentu saja di rumah tangga. Bahaya yang muncul memang sering tidak tampak atau tak terasa. Air tersebut tampak biasa-biasa saja dan jernih-jernih saja. Apalagi pegawai biasanya tak begitu awas dengan memperhatikan secara seksama air minumnya, diteliti dan dilihat-lihat dulu sebelum diminum. Biasanya langsung dituang ke gelas dan tanpa curiga langsung diteguk habis. Terlebih lagi kalau mereka tak tahu ilmu tentang kualitas air. Dikiranya air jernih pasti tak mengancam kesehatannya yang dampaknya memang sering tidak instan, tidak akut. Hanya sesekali kasus akut terjadi seperti sakit perut masal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan berarti kalau tidak sakit perut air tersebut pasti tak berbahaya. Sebab, boleh jadi muncul dampak kronis setelah sekian tahun kemudian. Jika air tersebut tidak memenuhi syarat kualitas air minum akan menjadi bara dalam sekam yang sewaktu-waktu pada masa depan potensial “meletup” berupa sakit ginjal, hipertensi, hepar, dll. Apalagi kalau unit amiku tersebut ada yang sudah melewati “life time”-nya tapi tidak diganti dengan yang baru lantaran ingin untung sebesar-besarnya, tak peduli pada kesehatan konsumen. Itu sebabnya perlu disebarkan kepada masyarakat, para pegawai di kantor-kantor (dan tentu saja masyarakat umum lainnya juga) prinsip dasar bahwa air jernih tak selalu bersih. Jernih tak sama dengan bersih. Mulai sekarang, sebelum meneguk air, pikirkanlah barang dua-tiga detik apakah air digenggaman kita itu sudah bersih atau hanya sekadar jernih. Adakah “racun” di dalamnya yang tak kasat mata sehingga mungkin berdampak buruk bagi kesehatan kita sekian tahun kemudian? Ternyata perkara minum yang sudah puluhan tahun dilakoni tak sesederhana yang diduga. Kebiasaan memang melenakan tapi kerapkali melinukan tubuh. Kalau tidak sekarang, maukah meradang pada masa mendatang? *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Gede H. Cahyana, Dosen Teknik Lingkungan Universitas Kebangsaan Bandung. Penulis buku 'PDAM Bangkrut? Awas Perang Air'. Dipublikasikan pada HSE Club Indonesia Jurnal Edisi 01/2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28104430-114765046522729163?l=hse-club-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/114765046522729163/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28104430&amp;postID=114765046522729163&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114765046522729163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114765046522729163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/2006/05/bahaya-amiku-di-kantor.html' title='Bahaya Amiku Di Kantor'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28104430.post-114764423925653920</id><published>2006-05-15T05:03:00.000+07:00</published><updated>2006-05-15T06:43:32.796+07:00</updated><title type='text'>Ekosistem Estuari (1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/1600/P2180019.1.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/200/P2180019.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita mempunyai rencana untuk menghabiskan waktu liburan dengan berjalan-jalan di tepi pantai, pasti yang terlintas dalam benak kita adalah hamparan pasir putih yang bersih dan air pantai yang jernih. Sangat jarang diantara kita yang berkeinginan untuk menelusuri tepian pantai yang berair keruh, berlumpur dan bahkan bau. Padahal di daerah seperti inilah ciri khas pantai yang disenangi oleh vegetasi mangrove. Mungkin hal ini yang menjadikan ‘mangrove’ terasa asing di telinga sebagian besar orang. Memang komunitas mangrove bukanlah penghuni pantai murni, harus ada intake air tawar yang biasanya berupa sungai. Jadi lebih tepatnya vegetasi mangrove menghuni daerah muara. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Mangrove merupakan sekumpulan tumbuhan berkayu maupun berupa semak belukar yang mampu tumbuh dan berkembang dengan baik di daerah peralihan antara darat dan laut yang secara periodic masih terkena bahkan tergenangi air pasang. Tumbuhan-tumbuhan mangrove sering dikenal dengan istilah ‘vegetasi mangrove’, sedangkan habitat mangrove lebih dikenal dengan istilah ‘mangal’. Vegatasi mangrove tidak akan kita jumpai di habitat lain, mereka hanya dapat ditemukan di habitatnya, yaitu daerah intertidal atau daerah antara darat dan laut. Hal inilah yang menjadikan mangrove sebagai komunitas yang menarik sebagai objek penelitian. Seorang scientist mangrove bernama Tomlinson membagi komponen penyusun vegetasi mangrove menjadi tida komponen besar, yaitu komponen mayor (major component), komponen minor (minor component), dan komponen asosiasi (Associate component).&lt;br /&gt;Komponen mayor merupakan komponen penyusun ekosistem mangrove yang keberadaannya melimpah dan mampu membentuk tegakan murni, namun tidak pernah meluas sampai ke dalam komunitas daratan. Ada sekitar tiga puluh spesies dalam sembilan genera dari lima famili yang tercatat sebagai komponen mayor. Sedangkan komponen minor keberadaannya tidak begitu mencolok dan jarang membentuk tegakan murni. Tidak kurang dari dua puluh sepesies dari sebelas genera yang tercatat sebagai komponen minor (Tomlinson, 1994; Hogarth, 1999). Sedangkan komponen asosiasi merupakan komponen yang mampu tumbuh dengan baik di ekosistem mangrove atau keberadaannya selalu mengikuti ekosistem mangrove namun jarang ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekosistem mangrove mempunyai fungsi ekologis antara lain sebagai tempat untuk mencari makan (feeding ground) (Nybakken, 1992), bukan hanya untuk biota namun juga untuk manusia. Berbagai invertebrata menggantungkan hidupnya pada produktivitas mangrove baik langsung maupun tidak langsung. Beberapa spesies memakan langsung daun maupun propagul mangrove, sedangkan lainnya mencerna partikel organik halus, baik yang tersuspensi dalam kolom air sebagai “filter feeder” maupun yang telah terendapkan di dasar lumpur (Noor , et al., 1999). Ada pula spesies predator ataupun pemakan sisa-sisa tumbuhan dan pemangsa hewan lain (Hogarth, 1999). Selain itu ekosistem mangrove juga berperan sebagai tempat pemijahan (spawning ground), tempat pembesaran (nursery ground) bagi berbagai jenis hewan seperti ikan, udang dan kepiting (Nybakken, 1992; Bengen, 1999; Supriharyono, 2000) dan sebagai tempat bersarang (nesting ground) oleh banyak satwa (Komar et al., 1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan mangrove di sekitar Mimika sangat besar manfaatnya bagi penduduk setempat. Kayu dari pohon mangrove jenis tertentu mereka gunakan untuk membuat rumah, belum lagi Tambelo yang hidup dalam pohon mangrove yang telah mati, Karaka dan kerang yang hidup di lantai hutan mangrove, ikan dan udang yang lalu lalang mencari makan di sekitar hutan mangrove, dan buah dari beberapa jenis mangrove yang mereka makan. Kehidupan mereka sangat tergantung pada ekosistem mangrove. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Oleh:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agung Faiz Darmawan, Scientist Data Compilation Coastal &amp;amp; Marine, Environmental Department PT Freeport Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dipublikasikan pada HSE Club Indoensia Jurnal Edisi 01/2006.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28104430-114764423925653920?l=hse-club-indonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/feeds/114764423925653920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28104430&amp;postID=114764423925653920&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114764423925653920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28104430/posts/default/114764423925653920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hse-club-indonesia.blogspot.com/2006/05/ekosistem-estuari-1.html' title='Ekosistem Estuari (1)'/><author><name>HSE Club Indonesia</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03630854573603620702</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7513/2971/320/P2180019.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
