June 16, 2006

Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Konservasi Hijau)

Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Konservasi Hijau)
Oleh. Wahyudin Alisyakir

Kenyataan bahwa energi fosil khususnya minyak bumi yang merupakan sumber energi utama saat ini terbatas jumlahnya, sementara komsumsi energi terus meningkat sejalan dengan laju
pertumbuhan ekonomi dan pertambahan penduduk. Untuk mengatasi keterbatasan itu energi
terbarukan adalah alternatif solusi karena energi terbarukan adalah energi yang dapat diperbaharui dan apabila dikelola dengan baik, sumber daya itu tidak akan habis. Potensi energi
terbarukan yang dimiliki indonesia seperti: energi surya, biomassa, panas bumi, energi air,anergi angin dan energi samudra, sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan. Perubahan iklim dunia yang diyakini oleh sebagian besar pakar lingkungan sebagai salah satu dampak pemanaasan global, merupakan isu utama lingkungan hidup sebagai akibat pemanfaatkan energi oleh manusia dan Indonesia telah meratifikasi United Nation Frame
Work Convention on Climate Change melalui UU No. 6 tahun 1994, permasalahannya adalah
implementasi dan kebijakan konkrit belum terlihat nyata. Untuk mengurangi dampak lingkungan yang lebih buruk adalah melalui konservasi energi. Konservasi energi didefinisikan sebagai penggunaan energi secara efisien dan rasional dan tanpa menggurangi penggunaan energi yang memang benar-benar diperlukan. Upaya yang bisa kita lakukan dalam konservasi energi diterapkan pada seluruh tahap pemanfaatan, penggunaan teknologi yang efisien dan membudayakan pola hidup hemat energi. Indonesia memiliki potensi energi
terbarukan yang besar sehingga mempunyai peluang untuk dikembangkan.

Dilihat dari perkembangan dan pemanfaatannya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Energi yang sudah dikembangakan secara komersial (biomassa , panas bumi dan tenaga air),

2. Energi yang sudah dikembangkan tetapi masih dalam jumlah terbatas (energi surya, anergi angin),

3. Energi yang sudah dikembangkan, tetapi masih dalam tahap penelitian (energi samudra).
Sebagai negara agraris Indonesia mempunyai energi biomassa yang besar. Energi biomasa
meliputi kayu, limbah pertanian/perkebunan/hutan, komponen organik dari industri, rumah tangga, kotoran hewan.

Teknologi konversi biomassa mejadi bahan bakar antara lain: Teknologi Pirolisa (bio-oil),
esterifikasi (bio-diesel), Teknologi Fermentasi (bio-etanol), anaerobik digester (biogas).
Energi panas bumi potensinya sangat besar mengingat negara kita mempunyai jalur vulkanik
di sepanjang jalur Pulau Sumatera, pulau Jawa-Bali, NTT, NTB, Halmahera dan Sulawesi.
Sementara pemanfaatan potensi energi air skala besar untuk pembangkit tenaga listrik sudah
telah dikembangkan secara optimal di Pulau Jawa, namun di beberapa pulau lain potensi ini
belum tergarap dengan baik. Sebagai negara tropis kita memiliki potensi energi surya yang cukup besar dengan radiasi harian matahari rata-rata 4,8 kWh/m2. Ada dua macam teknologi yang sudah diterapkan, yaitu tekonologi energi surya thernal dan fotovoltaik.

Energi surya thermal umumnya digunakan untuk kompor surya, mengeringkan hasil pertanian
tetapi masih dalam jumlah yang terbatas. Energi surya fotovoltaik digunakan untuk memenuhi
kebutuhan listrik. Saat ini pemanfaatan energi surya dalam bentuk SHS (solar home system)
sudah mencapai tahap komersial. Sedangakan Potensi energi angin secara umum kecil karena kecepatan angin pada umumnya rendah yaitu antara 3 – 5 m/detik. Tetapi pada daerah tertentu dikawasan Indonesi Timur, kecepatan anginnya lebih dari 5 m/detik. Energi
angin ini dapat digunakan untuk listrik pedesaan, pompa air dan aerasi tambak udang.


Secara umum potensi energi samudera memenuhi syarat untuk dikembangkan. Energi itu tetdiri atas beberapa jenis, yaitu: energi gelombang dan energi pasang surut. Energi yang
terkandung dalam gelombang, berkisar antara 20 - 70 kW/m, yang diukur pada rata-rata garis
depan gelombang, artinya gelombang pantai sepanjang 1 km dapat menghasilkan daya sebesar
20 - 70 MW, luar biasa bukan? Jika daya tersebut dikonversikan menjadi listrik dengan efisiensi 50 % akan dihasilkan listrik sebesar 10 -35 MW. Energi terbarukan dapat menghemat pemakaian energi fosil yang signifkan, namun potensi litu tidak akan ada artinya sama sekali
apabila belum ada kebijakan investasi dan pendanaan serta kebijakan insentif dari pemerintah untuk mendorong pemanfaatannya mengingat pada tahap komersial harga energi terbarukan belum dapat bersaing secara komersial.
Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai warga negara,yaitu mari mulai membudayakan sikap
hidup hemat energi dari diri kita, yaitu : hemat pemakain listrik, air, BBM, dan mengurangi
kebiasaan yang cenderung boros energi.

Wahyudin Alisyakir
Saat ini menjabat sebagai Safety Engineer di sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Uap dengan Kapasitas 2 x 700MW, PT.YTLJT, Paiton, Probolinggo Jawa Timur.

June 15, 2006

Bumi Karam: Global Climate Change

Bumi Karam: Global Climate Change

Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2006 ini, tepat sebulan setelah Hari Air Sedunia, bertema Climate Change Solutions atau Solutions to Climate Change dan ini terkait dengan Population Growth. Artinya, ada korelasi yang sangat kuat antara perubahan iklim Bumi dan pertumbuhan penduduknya. Muncullah kampanye untuk menanggulangi perubahan iklim: Climate Change Solutions Campaign

Dahsyat. Inilah kata yang pas untuk menilai pertambahan jumlah manusia. Betapa pesatnya perkembangan penduduk Bumi ini bisa dilihat pada jumlah penduduk tahun 1950 yang berjumlah 2,5 Miliar. Dalam tempo 55 tahun, yaitu tahun 2005 jumlahnya sudah 6,2 Miliar. Dan sekarang, tahun 2006 ini, pada bulan April ini, pasti lebih dari itu. Kira-kira 6,5 M. Kemudian, pada saat yang sama, greenhouse gases seperti karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya terus meningkat lantaran peningkatan penggunaan BBM, zat kimia dan penebangan hutan. Dampaknya adalah kenaikan temperatur rerata Bumi. Ini terbukti. Dekade terpanas di Bumi terjadi pada akhir abad ke-20, yaitu tahun 1990-an. Dan tahun terpanas satu dekade terakhir ini adalah tahun 1998, 2001, dan 2005. Kondisi panas ini akan ajek naik jika tren sekarang terus bertahan atau malah kian parah. Inilah yang akan menimbulkan Global Warming, pemanasan global.

Apa dampak Global Warming itu? Yang sudah diyakini adalah kenaikan muka laut sehingga pulau-pulau kecil terendam bahkan tenggelam, pantai menyempit, intrusi air laut sehingga mengurangi suplai air bersih. Terjadi reduksi luas pulau yang dapat memunculkan masalah kependudukan dan gangguan kesehatan masyarakat karena memicu gelombang panas yang kian parah dan lama paparannya. Pola hujan dan salju pun ikut berubah yang otomatis mengganggu pola suplai air bersih, terutama di daerah yang krisis air. Global Warming dan ledakan jumlah penduduk juga mengancam kekurangan pangan sehingga terjadi eksploitasi lahan baru di gunung, bukit, dan hutan, di dataran banjir, dan di lahan basah. Semuanya terpaksa dieksploitasi demi penyediaan kebutuhan pangan.

Siapa yang bertanggung jawab? Semua orang di Bumilah yang bertanggung jawab. Sebab, setiap orang pasti mengeluarkan CO2 selama hidupnya. Tetapi secara khusus, orang-orang yang hidup di negara-negara industrilah yang sangat banyak menggunakan bahan bakar fosil. Sebetulnya emisi CO2 dari manusia relatif konstan selama 30 tahun terakhir ini. Namun demikian, ada data bahwa emisi orang Amerika Serikat lima kali lebih besar daripada orang Meksiko dan bahkan 19 kali lebih besar daripada orang India. Malah ada data lain yang mengatakan bahwa 20% manusia Bumi yang berada di negara maju justru kontribusinya mencapai 63% dari total emisi. Jika dihitung berdasarkan negara maka Cina memang pengemisi terbesar lantaran jumlah penduduknya terbanyak, walaupun faktanya emisi tujuh orang Cina itu setara dengan satu orang Amerika Serikat. Tujuh orang setara dengan satu orang!

Itulah faktanya sekarang. Barangkali kita tak pernah peduli akan hal itu. Kita acuh tak acuh dan bersikap bahwa itu bukan urusanku. Urusanku sudah banyak dan sudah memumetkan kepalaku. Boleh-boleh saja dan mungkin sangat-sangat banyak yang berpikir demikian. Bumi tenggelam atau tidak, itu bukan urusanku! Urusanku cuma satu, yaitu hidup senang dan gembira selamanya. Andai Bumi ini tenggelam, aku mungkin sudah lama mati dan mungkin cucu-cicitku pun sudah lama pula mati. Buat apa aku stres sekarang? Itu kan masih lama. Demikianlah ungkapan orang-orang yang pernah diskusi perihal Global Warming yang saya dengar.

Water World
Bumi tenggelam? Kapan Bumi ini tenggelam? Mari kita kilas balik sebentar ke sinema layar lebar masa lalu, satu dekade lalu, yaitu Water World. Pemeran utamanya adalah Kevin Kostner. Dalam film itu dia dan teman-temannya kehilangan rumah, tanah dan air. Mereka hidup di atas kapal seperti Nabi Nuh. Mereka bertarung melawan kelompok lain untuk mendapatkan sejengkal tanah dan air tawar. Ini terjadi lantaran es di kutub mencair akibat pemanasan global dan air lautnya meluap. Hanya air asin yang ada di mana-mana sehingga sang “Dances With Wolves” itu harus mendaur ulang air kencingnya untuk sekadar minum. Dulu, film buatan tahun 1995 ini mencatat box office, termasuk di Indonesia.

Dari data ilmiah didapat bahwa telah terjadi peningkatan temperatur troposfer (atmosfer lapisan terbawah) sejak awal abad lalu. Lantas hadir sejumlah teori tentang kenaikan muka air laut seperti Teori Lebur (Melting Theory), yakni pencairan “pulau” es di kutub. Data pasang surut di sejumlah negara memberikan gambaran bahwa fenomena itu betul-betul terjadi. Tapi data tersebut hanya memberikan gambaran kondisi setempat yang cenderung bersifat lokal. Ini perlu dicermati karena ada dua perubahan penting yang mungkin terjadi, yaitu perubahan ketinggian muka air laut karena daratan bergerak relatif terhadap lautan (perubahan isostatik) dan perubahan karena penambahan volume air laut dari pencairan es dan salju (perubahan eustatik) yang ada di daratan atau kontinental (benua).

Kalau demikian, akan mencairkah es di Kutub Utara dan Kutub Selatan? Sementara kalangan meyakini bahwa es di kedua kutub itu akan mencair jika temperatur global atmosfer terus naik. Es yang berubah menjadi air lalu masuk ke laut sehingga permukaannya naik dan membanjiri daratan, bahkan menelan pulau-pulau kecil seperti disebut di atas. Tapi ada pendapat lain, yaitu ada beda karakter antara Kutub Utara (Artik) dan Kutub Selatan (Antartika). Kutub Selatan adalah daratan yang dilapisi es. Jadi berupa landas kontinen/benua yang tertutup es. Sebaliknya Kutub Utara adalah air laut yang membeku membentuk “pulau” dan gunung-gunung es. Dengan demikian disimpulkan bahwa Kutub Utara, selain Greenland, adalah bongkahan es yang terapung-apung di laut.

Jika temperatur global betul-betul naik ekstrim, apa yang akan dialami oleh lempeng atau bukit-bukit es di kedua kutub tersebut? Jika “pulau-pulau terapung” di Artik mencair maka tak akan banyak mempengaruhi ketinggian muka air laut! Kenapa? Analoginya adalah gelas yang penuh air berisi sepotong es yang menyembul di permukaannya. Walaupun es itu habis mencair tetapi air di gelas tidak akan tumpah. Ini mengikuti prinsip hukum Archimedes. Pencairan es di Artik hanya mengubah wujudnya saja menjadi cair tetapi tidak punya efek yang cukup untuk menaikkan permukaan air laut! Jadi... kita bisa sedikit lega.

Namun hal sebaliknya bisa terjadi di Antartika. Gunung es dapat mempengaruhi ketinggian muka air laut. Volume total esnya cukup besar untuk menambah volume air laut. Tapi perlu dicatat bahwa karakter sistem lingkungan Antartika sangat, sangat dingin. Temperaturnya jauh di bawah titik nol sehingga esnya tidak akan mencair! Jadi pemanasan global takkan mampu mencairkan es di Antartika karena temperaturnya akan tetap berada di bawah nol. Jika panas global mengakibatkan temperatur di kutub dapat mendekati nol sehingga es mulai mencair maka dipastikan semua manusia di Bumi sudah mati akibat heat stroke sebelum berdampak pada kenaikan muka air laut. Dan ini tak kalah mengerikan jika dibandingkan dengan banjir sejagat itu.

Akan tetapi, kontradiksi saja dapat terjadi. Kenaikan temperatur di Kutub Selatan menyebabkan air laut di sekitarnya menguap. Hembusan angin membawa uap itu ke Kutub Selatan yang akhirnya jatuh dan membeku di daratan Antartika. Jika proses ini berlangsung terus maka sejumlah air pindah dari laut ke darat yang berarti justru terjadi penurunan muka air laut! Sekali lagi saya tulis, justru terjadi penurunan muka air laut! Artinya, pantai kita meluas sehingga meluas pula tempat untuk rekreasi dan membangun Water Front City. Namun, mungkinkah hal ini terjadi?

Salju abadi
Bagaimana dengan salju abadi? Jika pemanasan global mempunyai efek pada pencairan es di Artik dan penguapan air laut di sekitar Antartika sehingga permukaannya turun, apakah secara global air laut akan tetap naik? Sulit sekali menjawabnya dengan pasti, karena bergantung pada jumlah volume es yang mencair di Artik dan jumlah volume air laut yang menguap dan membeku di daratan Antartika. Terlihat bahwa kasus ini tidak sesederhana yang diduga sebagian kalangan bahwa jika Bumi memanas maka terjadi pencairan es yang akibatnya muka air laut ikut naik!

Di Bumi ini banyak ada es dan salju abadi seperti di Pegunungan Jaya Wijaya Papua, di Pegunungan Himalaya India dan beberapa pegunungan tinggi di Eropa. Pada akhir abad 20 lalu ada indikasi salju/es tersebut mencair. Jika pemanasan global berlanjut, boleh jadi semuanya akan cair. Bongkahan es di Greenland pun dapat menaikkan muka air laut jika mencair. Meier, peneliti gletser, menduga terjadi kenaikan 2,8 cm muka air laut selama periode 1900-1961. IPCC (Inter-governmental Panel for Climate Change) memperkirakan akan terjadi kenaikan muka air laut sampai 29 cm pada tahun 2030 dan pada tahun 2070 menjadi 71 cm atau hampir 1 meter pada akhir abad 21.

Betulkah demikian? Pemanasan global, secara teori dan ada sejumlah fakta, dapat mencairkan salju dan es yang mengakibatkan muka air laut naik. Tetapi mungkinkah temperatur atmosfer bawah Bumi naik sekian puluh derajat sehingga semua es di Bumi mencair? Mungkinkah pada saat itu manusia masih hidup dan hidupnya pun di atas kapal seperti Kevin Kostner dalam film Water World-nya atau seperti Nabi Nuh a.s?***